Potret Asrama Pemda Kabupaten Pegunungan Bintang Pada Masa Kepemimpinan Drs. Wellington Wenda, M.SI Dan Costan Oktemka, SIP

  • Whatsapp
Frans Wasini, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
banner 468x60

Oleh Frans  Wasini

Potret Kehidupan Asrama dan Organisasi IMPPETANG pada Masa Kepemimpinan  Bapak Drs. Wellington Wenda, M.Si

Asrama Mahasiswa dan Pelajar Pegunungan Bintang di Jalan Buper Waena Jayapura merupakan asrama milik Pemerintah Daerah Pegunungan Bintang yang dibangun pada masa kepemimpinan Bapa Drs. Wellington Wenda M.Si. Asrama tersebut diresmikan pada tanggal 10 November 2010 dengan tujuan menampung mahasiswa dan  pelajar yang studi di Jayapura dengan target 10 tahun kemudian orang Pegunungan Bintang dipersiapkan menjadi intelektual-intelektual hebat yang bisa bersaing dengan sesama orang Papua lainnya  Tanah Papua dan umumnya Indonesia. Setelah asrama didirikan Pemerintah Daerah selalu menjamin kebutuhan hidup para asrama, hal tersebut diceritakan oleh mantan ketua asrama Kakanda Kris Bakweng Uropmabin yang sedang menjabat sebagai anggota DPRD periode 2019-2024 di Pegunungan Bintang.

Pada masanya kepemimpinan Bapak Wellington Wenda semua kebutuhan asrama dan studi mahasiswa ditanggung, sehingga mahasiswa pada waktu itu tidak mengalami kesulitan. Setiap bulan Maret Pemerintah Daerah memberikan  bantuan pendidikan kepada seluruh mahasiswa  Pegunungan Bintang Se-Indonesia, termasuk biaya asrama dan dana pengembangan organisasi kepada IMPPETANG sehingga mahasiswa pada waktu itu berkembang lebih cepat dan tidak mengalami kendala dalam hal kebutuhan asrama maupun biaya kuliah.

Pada waktu itu IMPPETANG mudah mengorganisir dan membangun tali persaudaraaan antar sesama mahasiswa Pegunugan Bintang melalui berbagai kegiatan organisasi. Mahasiswa suku Ngalum, Kupel, Murop, Kambom, Lepki dan Kimki semua bersatu dan saling kenal satu sama lain melalui kegiatan IMPPETANG.  Misalnya pada masa kepemimpinan Kakanda Yohanes Sitokdana banyak kegiatan yang terlaksana, seperti kegiatan reorganisasi, pengenalan mahasiswa baru, seminar, pentas seni, menjahit noken, melukis batik Papua khas Pegunugan Bintang, perayaan HUT IMPPETANG, HUT asrama, dan sebagainya. Semua ini terlaksana karena dukungan Bupati Wellington Wengda yang sangat luar biasa peduli dengan SDM Pegunungan Bintang.

Potret Kehidupan Asrama dan Organisasi IMPPETANG pada Masa Kepemimpinan  Bapak Costan Oktemka, S.IP

Potret kehidupan asrama pada masa kepemimpinan Bapak Costan Oktemka, S.IP selaku anak asli Aplim Apom berbanding terbalik dengan Kepemimpinan Bapak Wellington Wenda yang notabennya bukan orang asli Aplim Apom tetapi sangat peduli dan punya hati yang besar untuk membangun SDM Papua melalui Pegunungan Bintang. Sejak tahun 2016 sampai sekarang ini kehidupan penghuni asrama sangat memprihatinkan. Selain kebutuhan asrama yang tidak diperhatinkan, berbagai fasilitas asrama sudah rusak parah dan tidak layak tetapi Pemerintah Daerah tidak melakukan renovasi. Ada 34 kamar tetapi tidak dilengkapi dengan perlengkapan lain yang mendukung pembelajaran, seperti komputer, buku-buku, lemari, kursi, meja dan kasur. Selain itu  air keran, lampu dan kaca  juga sudah rusak sehingga perlu diganti yang baru. Asrama ini sangat penting karena selain tempat tinggal mahasiswa digunakan sebagai pusat kegiatan organisasi  IMPPETANG. Dampak dari kurangnya berbagai fasilitas asrama tersebut membuat  kegiatan organisasi juga tidak berjalan optimal.

Pada masa kepemimpinan Bapak Costan Oktemka awalnya kami memiliki harapan yang optimis untuk jauh lebih maju dari kepemimpinan Bapak Wellington Wenda karena beliau adalah anak asli Aplim Apom tetapi harapan itu berbanding terbalik. Dalam 5 tahun masa kepemimpinannya lebih egois, menerapkan keluarga-isme, kelompok-isme, politik-isme dan lebih otoriter. Pemerintahan Bapak Costan Oktemka telah menginjak-injak hak-hak masyarakat dan mahasiswa hanya karena kepentingan politik kekuasaan. Bapak Costan Oktemka sudah membunuh masa depan anak Negri Aplim Apom yang sedang bersusah payah kuliah untuk masa depan kampung dan negri tercinta. Pada masa kepemimpinan Bapak Costan Oktemka selama 5 tahun ini kami mengalami beberapa hal.

Pertama, dari aspek ekonomi kebutuhan asrama tidak diperhatikan sehingga kami selalu makan nasi kering tanpa sayur dan sering satu pirang untuk beberapa orang. Kami menyadari ini sebuah perjuangan dan masa Bapak Costan Oktemka sudah pernah alami seperti ini tetapi tidak bisa jadikan itu alasan untuk menyengsarakan generasi berikutnya sebab masa dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Menerapkan sistem dulu tidak tepat di masa sekarang, harusnya jika Bapak sudah meresakan hidup menderita, generasi sekarang tidak boleh terjadi lagi.

 Kedua, kesehatan dan keselamatan penghuni terancam karena  pelapon rusak dan berjatuhan, dinding tembok dipenuhi sarang laba-laba, air tidak mengalar baik, kamar mandi hanya satu yang layak digunakan, kasur-kasur dan bantal rusak, dan lain-lain sehingga  sangat mengancam keselamatan dan kesehatan penghuni.  Dalam hal ini kami penghuni asrama tidak memungkinkan untuk melengkapi fasilitas tersebut sebab rata-rata penghuni asrama berasal dari orang tua yang kurang mampu. Untuk makan sehari-hari dan biaya kuliah saja kami setengah mati apalagi untuk mengganti fasilitas yang rusak. Untuk itu, Pemerintah Daerah selalu pemilik asrama harap memperbaiki fasilitas yang rusak.

Ketiga, selama 5 tahun ini banyak mahasiswa Pegunungan Bintang cuti kuliah karena tidak mampu bayar SPP/UKT kampus. Hal ini mengakibatkan SDM Pegunungan Bintang sudah jauh tertinggal dengan kabupaten lainnya.

Untuk itu harapan ke depan Pemerintah Daerah Pegunungan Bintang harus memprioritaskan pengembangan SDM dengan cara bekerja sama dengan semua pihak, baik tokoh intelektual, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh adat dan mahasiswa.

Saya minta dengan tegas agar siapapun pemimpin baru periode 2021-2025 harus utamakan kepentingan masyarakat, jauhkan sikap egois dan otoriter, menjadi pemimpin yang mencintai masyarakat, pemimpin yang damai  dan selalu melakukan Matekweron/Meta jepmeku ketika dalam situasi konflik. Ikat kembali tali persaudaraan yang sudah lepas,  pinong maki semenkulo kaka setmorpinong yepki bungmaki uma yepa atau dalam bahasa Ketengban kangi Tenpu Peldodina  Nimi Ketkepra kangi tenpo telepgi bungtenpu kunada telep. Artinya kita bekerja sama dengan satu visi, dengan pikiran yang baik dan dengan tetap menjaga keutuhan keluarga sebagai orang Pegunungan Bintang.

 

Penulis Adalah Mahasiswa Penghuni Asrama Pemda Kabupaten Pegunugan Bintang di  Jayapura.

 

 

 

 

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *