Jiwa Kepemimpinan Bagi Kaum Milenial Papua

  • Whatsapp
Foto Ilustrasi Kepemimpinan Kaum Millenial
banner 468x60

Oleh Ferdinandus Feri Urpon

Bicara mengenai kepemimpinan, maka kita harus mengerti dahulu kata dasarnya. Kata dasar dari kepemimpinan adalah ‘pimpin’. Namun jika kita hanya menggunakan kata ‘pimpin’ saja maka maknanya akan tidak jelas jika dihubungkan dengan kata-kata selanjutnya ataupun sebelumnya. Mungkin saja kata ini (pimpin) akan kelihatan benar sewaktu-waktu jika dihubungkan dengan kata tertentu, namun jika dilihat dari segi rasa bahasanya, maka akan terdengar aneh, misalkan saja jika kita hanya menggunakan kata ‘pimpin’ pada judul di atas, maka judulnya akan kelihatan tidak logis. Sehingga agar logis maka membutuhkan imbuhan pada awal dan akhir kata. Namun saya tidak akan bahas lebih lanjut mengenai imbuhan karena intinya bukan soal kata dan imbuhan melainkan sebuah makna sejati yang bisa digenggam para milenial demi masa depan.

Kata kepemimpinan dalam bahasa inggris disebut leadership. Begitu pun sebaliknya jika kata leadership diartikan maka maknanya akan sama, yaitu kepemimpinan. Tetapi untuk memahami makna sejati dari kata kepemimpinan tidak hanya dapat dibolak-balikan esensinya. Kepemimpinan itu sendiri adalah sebuah tugas untuk memimpin. Memimpin artinya membantu, menuntun, menunjukan jalan, dan masih banyak makna yang terkandung dalam kata ini (memimpin). Banyak orang telah menjadi pemimpin, namun banyak pula yang masih belum menjiwai makna kepemimpinan yang sejati. Menurutnya Dale Carnegie, kepemimpinan adalah “menguak prinsip dasar dari tinghkah laku manusia”. Jika ingin menjadi pemimpin yang sejati, maka kita perlu mengetahui dan memahami apa makna sejati dari sebuah kepemimpinan.

Milenial adalah generasi penerus bangsa. Oleh karena itu setidaknya para milenial perlu menyadari kemana dan apa yang mereka akan lakukan kedepnnya. Back ground bukan sebuah patokan bagi tiap individu, namun milenial akan menjadi panutan dan pengganti pemimpin-pemimpin sekarang. Oleh karena itu milenial,  secara khusus bagi milenial di tanah Papua harus sekurang-kurangnya mengenal kata kepemimpinan, karena suatu saat mereka (milenial)  ini yang akan di butuhkan untuk membangun tanah Papua.

Semua orang bisa saja menjadi seorang pemimpin. Namun, untuk menjiwai kepemimpinan itu butuh pengorbanan. Baik pengorbanan akan waktu, tenaga, pikiran, mental, dan pengorbanan lain yang dapat membantu seorang individu untuk menjiwai kepemimpinan tersebut. Sekarang kader muda di tanah Papua dituntut untuk betul-betul meresapi makna kepemimpinan agar belajar mengorbankan segalanya demi pembangunan di tanah Papua, baik dari segi manusia, infrastruktur, maupun ekonomi dan budaya di masa depan negri ini (tanah Papua).

“ Fondasi kepemimpinan meliputi kualitas seperti integrasi, kejujuran, kerendahan hati, keberanian, komitmen, ketulusan, semangat, kepercayaan diri, kebijaksanaan, tekad, belas kasihan, sensitifitas, dan karisma pribadi” (Dale Carnegie).

Menjadi seorang pemimpin tidak hanya sema-mata agar dilayani dan memanfaatkan bawahannya demi kepentingan pribadi. Melainkan sebaliknya, yaitu membimbing, menuntun, dan membantu bawahannya agar mencapai suatu visi yang ditentukan. Oleh sebab itu para kader muda Papua sekarang perlu memahami hal-hal mendasar seperti pada kutipan kedua di atas. Semua hal itu jika sudah di penuhi, maka anda, sang milenial akan diperhitungkan menjadi calon pemimpin.

Namun jika para milenial Papua merasa fobia terhadap kata kepemimpinan, maka kata milenial yang tertempel pada dirinya tidaklah berguna, karena kata milenial sendiri identik dengan seorang pemimpin di zaman sekarang. Tidak ada seorang pemimpin yang kerjanya hanya bersantai, memerintah, ingin dilayani, memanfaatkan orang lain, dan selalu hanya ingin berfoya-foya. Ciri-ciri manusia seperti ini tidak layak untuk disebut sebagai seorang pemimpin. Jika para milenial sekarang hanya mau bersantai-santai tanpa harus bekerja keras, maka tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk memimpin.

Orang yang ingin menjadi pemimpin adalah mereka yang menyadari bahwa pemimpin bukan dilahirkan tetapi pemimpin itu diciptakan. Karena kepemimpinan bukanlah DNA manusia yang mengalir seperti darah di dalam tubuh manusia dan diwariskan secara turun temurun. Pemimpin yang sejati diciptakan melalui kerja keras, tekad, pengalaman hidup, memiliki mental baja, serta berpendirian kuat dan memiliki pemikiran seorang idealis. Berdasarkan ini kita dapat tahu dan memahami bahwa pemimpin adalah seorang yang pekerja keras. Jika kita kaitkan prinsip-prinsip menjadi seorang pemimpin dengan realita milenial sekarang, terlebih khusus milenial Papua sekarang, maka kita akan merasa hal ini (menjadi seorang pemimpin) adalah sesuatu yang ‘imposible’. Jika kita realistis, maka dalam keseharian kita akan mendapati para milenial bersantai-santai, dengan kebiasaan mereka seperti, main tik-tok, minta-minta pinang dan rokok, minum mabuk, dan galau-galau tanpa sebab yang jelas.

Semua contoh ini memang realistis sekali dalam kehidupan para milenial di tanah Papua. Walaupun parsial saja namun hal ini cukup mengkhawatirkan bagi perkembangan tiap individu dari segi mental. Dari segi waktu, para milenial menghabiskan setiap detik demi sesuatu tidak mempunyai kontribusi bagi masa depannya. Akan lebih berguna jika para milenial duduk habiskan waktu dengan membaca buku, mencari informasi penting, berdiskusi, dan melakukan hal-hal lain yang berpotensi mengembangkan diri sendiri. “ Tiga hal penting untuk mencapai sesuatu adalah pertama, kerja keras ; kedua, kesetiaan ; dan ketiga, akal sehat”  kata Thomas Edison (dalam Luthfi subagio).

Semua akan menjadi sesuatu yang ‘imposible’ jika kita melupakan tiga hal di atas. Namun jika kita mempunyai semua prinsip-prinsip menjadi seorang pemimpin dan menjiwainya, maka tidak ada kata mustahil untuk  menjadi seorang pemimpin. Banyak pemimpin-pemimpin di dunia yang hebat, yang mampu menggerakan massa untuk mencapai visi yang diciptakan, namun dari di antara pemimpin hebat itu masih ada yang belum menjiwai kepemimpinannya, karena menjadi pemimpin berarti demi sebuah tujuan yang mulia. Ambil contoh saja Hitler. Hitler merupakan seorang pemimpin dari sebuah organisasi terbesar di dunia yakni Nazi. Dia (Hitler) mempunyai tujuan yang mulia menurutnya sendiri, namun tidak bagi orang lain. Membunuh jutaan manusia dan ingin menguasai dunia merupakan sebuah tujuan yang tidak mulia dengan tindakannya yang sangat tidak etis sekaligus. Hitler juga bukan merupakan contoh yang baik untuk ditiru. Namun ditengah-tengah semua itu hal yang bisa kita pelajari darinya adalah  niat, tanggungg jawab, ambisi, dan kerja kerasnya (Hitler) untuk menguasai dunia, namun bukan berarti kita juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Hitler.

Sosok Hitler mengajarkan kita untuk menguasai prinsip-prinsip dasar yang sudah disebutkan sebelumya. Namun yang paling mendasar adalah kasih sayang. Mempunyai hati yang pekah agar bisa belajar dari sejarah Hitler dan bukan mengulang sejarahnya. Sosok lain yang perlu kita belajar darinya untuk prinsip-prinsip menjadi seorang pemimpin adalah Abdurahman Wahid, atau sering disapa Gusdur. Gusdur adalah presiden ke-4 Republik Indonesia. Dari dia kita belajar toleransi antar sesama umat manusia. Menjadi seorang pemimpin berarti perlu adanya toleransi dan kasih antara sesama demi menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang sejati. Pemimpin adalah seorang panutan bagi bawahannya. Jika ingin menjadi seorang pemimpin namun mempunyai tabiat yang buruk, maka tidak akan ada yang bisa dipelajari darinya. Mungkin dia bisa menjadi contoh, namun contoh yang buruk bagi sesama dan bawahannya. Semoga para milenial di zaman modern ini menyadari akan pentingnya menjadi seorang pemimpin di masa mendatang, terlebih khusus bagi tanah Papua.

Pertanyaan Berupa Refleksi:

  1. Apa itu pemimpin menurut milenial ?
  2. Apakah milenial sekarang bisa jadi seorang pemimpin yang sejati ?
  3. Bisakah milenial papua mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi menjadi seorang pemimpin ?

 

Referensi

Dale Carnegie, 2011. Bagaimana memimpin diri sendiri dan orang lain untuk meraih posisi puncak. Yogyakarta : quills book publisher

Subagio luthfi, 2015. 365 Mindset Berbisnis Dan Berwirausaha. Yogyakarta : penerbit indoliterasi

 

Penulis: Ferdinandus Urpon, Mahasiswa Pegunungan Bintang Kursus di IALF  Bali.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *