Sinma Group: Mengejar Impian Tanpa Dukungan

  • Whatsapp
Tim Sinma Group Berfoto Usai Latihan di Kabiding, Dok. Sostenes Uropmabin Untuk Tribunpapua.id
banner 468x60

OKSIBIL, TRIBUNPAPUA.ID—-Pelestarian Nilai-nilai kearifan lokal Tanah Aplim Apom adalah tanggung jawab semua stake holders. Bentuk dan caranya pun beragam. Lewat lagu dan musik, Sinma Group melestarikan kearifan lokal sukunya.

Jarum jam baru saja beranjak naik  dan bertengger di arah 18.50 saat itu. Musim kemarau yang telah berlangsung seminggu belakangan seakan-akan turut memperlambat laju jarum jam seolah menahan agar tidak beranjak lebih cepat. Di kejauhan terdengar lengkingan suara jangkrik,  suaranya membahana mengisi relung alam. Awak media ini menyusuri jalan raya dari arah Kabiding menuju kampung Mabilabol.

Sesuai dengan perjanjian antara penulis dengan pimpinan group Sinma, malam itu penulis menyambangi sebuah rumah yang terletak di lokasi I, Kampung Mabilabol, Distrik Oksibil, Pegunungan Bintang. Rumah berdinding kayu beratapkan zenk tersebut terletak dibawah kaki gunung Bukam. Rumah milik Bapak Rafael Tapyor dengan ibu Agatha Singpanki. Rumah  itulah yang rupanya dijadikan studio musik oleh grup ini. Keluarga Tapyor rela rumahnya dijadikan sanggar musik Sinma. Di rumah itu pula grup Sinma pusatkan segala hal yang berhubungan dengan latihan musik. Sembari latihan, mereka saling membagi pengalaman hidup. Kopi, mocca atau sejenisnya menjadi teman latihan.

Sebelum memasuki rumah tersebut, penulis mendengar sebuah lagu pop dalam bahasa Ngalum (bahasa lokal) berjudul Ne Abenong Dopsibia dilantunkan Sinma dari dalam rumah. Ketika mendengar lagu tersebut penulis tertunduk  sejenak mengenang Michael Uropmabin, rekan penulis semasa muda sebagai sang pengarang lagu yang telah berpulang kepada Bapa di Surga beberapa tahun silam.

“ Efes, efes e jangan sibuk dengan rokok; Ismail petik bass yang bagus biar kedengaran suara bassnya; Franky  buka suara baik biar  nyaring; Theo atur gitar dengan benar, Bapa Vidy pegang ukulele baik” demikian sepenggal perintah sang ketua grup SINMA Kabiding, ibu Agatha Singpanki kepada rekan-rekannya dalam sesi latihan yang dihadiri awak media ini pada waktu itu. Dari 8 orang personil Sinma, 1 diantaranya perempuan yakni ibu Agatha Singpanki. Uniknya lagi, ibu 3 anak yang kesemuanya perempuan itu merupakan koordinator atau pimpinan Sinma. Penunjukkan ketua itu merupakan kesepakatan bersama kata personil grup hamper bersamaan.

Sinma merupakan kependekan dari “ Sinep Malontan”. Kata ini diambil dari bahasa Ngalum. Sinep: duluan. Malon tan : dari belakang/menyusul. Jadi secara harapiah artinya “anda duluan, saya menyusul”. Menurut Agatha Singpanki, sang Koordinator grup musik  SINMA nama itu diambil karena dilatarbelakangi oleh kemampuan orang Ngalum dalam kancah seni musik yang telah tertinggal dari daerah lain yang sudah maju. Pelan tapi pasti akan mengejar ketertinggalan. Demikian dijelaskan oleh ibu tiga anak itu saat menjelaskan mengapa harus menamai grup dengan Sinma.

Sejarah

 

Berawal dari keisengan, bermuara pada keseriusan. Demikian kata yang tepat untuk menggambarkan cikal bakal terbentuknya grup SINMA. Agatha, Rafael, Frans mengungkapkan grup ini bermula di rumah bapak Adolf Uropmabin. Ketika itu belum ada nama Sinma. Para seniornya seperti Laurens Bamulki, Yoseph Kasipmabin, Jeremias Tapyor, Agustinus Uropmabin dan Yakobus Uropmabin (+)  bersama rekannya berkumpul memainkan musik. Lagu rohani menjadi fokus mereka kala itu. Lagu rohani tersebut dibawakan di gereja Katolik Paroki Roh Kudus Mabilabol,Oksibil. Tidak lama berselang para senior tadi meninggalkan grup dengan berbagai sebab. Personil grup Sinma yang eksis hingga kini adalah anak-anak kecil yang saat seniornya main musik menjadi pendengar atau penonton yang baik. Mereka mengatakan waktu itu kami ikuti dari awal hingga akhir. Pada saat seniornya istirahat, mereka mengambil dan memainkan alat musik. Itu artinya mereka belajar musik secara otodidak, tidak pernah ikuti kursus musik. Bakat alam dalam bidang seni musik.

Waktu pun berlalu tanpa terasa. Ketika memasuki tahun 2003 mereka berkumpul di rumah bapak Anton Tapyor (Bapak dari Rafael Tapyor) untuk berlatih musik. Personilnya pun berubah. Seiring berjalannya waktu, timbul ide diantara mereka untuk membentuk suatu grup musik yang beraliran etnik ngalum. Saat itu belum ada lampu listrik sehingga berharap pada terang lampu lilin. Apa lagi latihan digelar pada malam hari. Dari tahun 2000 hingga 2010, nama grup ini adalah vokal grup Kabiding. Sejak  mendapatkan rumah sosial, mereka pun pindah tempat latihan dari rumah Bapaknya ke rumah Rafael dan ibu Agatha. Suami isteri yang memiliki bakat sama, musik.

Grup Sinma berlatih tiap hari dengan pengecualian pada hari tertentu. Pengecualian berlaku saat orang meninggal, doa kombas, atau personil berhalangan hadir karena alasan tertentu. Uniknya mereka telah berlatih selama 16 tahun. Menyinggung soal personil grup, selain ke-8 orang yang masih eksis hingga kini, Singpanki menuturkan “ banyak orang telah datang tetapi kemudian pergi dari grup karena berbagai alasan. Namun demikian, selain 8 orang yang ada kini, 3 orang personil telah berpulang kepada yang empunya kehidupan, Allah Bapa di Surga. Mereka adalah Alm. Bapak Yakobus Uropmabin, Almh. Meike Singpanki dan Almh.Marietta Uropmabin. Tampak Singpanki menyeka air mata dari kedua belah pipinya demi mengenang ketiga mantan rekan grup itu.

Saat ditanya Tribun.id selama berlatih dalam rentang waktu itu apakah ada pihak yang peduli atau membantu baik secara materi maupun moril? Frans Tapyor, seorang personil Sinma mengatakan:” pernah ada bantuan alat musik band dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pegunungan Bintang tahun 2010; Organ/Keyboard dari Bapak Koswin Uropmabin, bantuan organ dan guitar dari Badan Kesbangpolinmas Pegunungan Bintang lewat perantaraan Sanggar Seni Ok Eniki. Lain dari pada itu merupakan hasil usaha personil grup sendiri.

Saat Tribun.id menanyakan selama periode itu, apakah pernah tampil pada kegiatan bertajuk seni seperti festival, pagelaran seni atau apa pun kegiatannya yang bersifat seni. Theo Tayukbin menyampaikan kalau grup Sinma hanya baru  tampil di Festival Seni Kreasi Papua di Biak Oktober tahun 2014 difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pegunungan Bintang. Ismail Bamulki menambahkan baru-baru ini kami tampil menghibur penikmat seni pada acara kampanye salah satu kandidat Pemilukada Pegunungan Bintang lalu. Selain itu tidak pernah.

Khusus untuk pengalaman tampil pada Festival Seni Kreasi Papua di Biak tahun 2014, semua personil menyampaikan rasa puas, senang, bangga dan membangkitkan spirit serta  inspirasi secara langsung. Kami  tak percaya bisa berada di kota Biak dalam kegiatan bertajuk seni. Hal yang membuat mereka senang adalah menampilkan kemampuan olah musik dan suaranya selama beberapa waktu sebelumnya di Biak, daerah yang terkenal sebagai sang maestro musik tradisional di tanah Papua. “Kami tidak mementingkan juara atau tidak sebab itu tidak menjamin kami hidup. Bagaimana mengasah bakat musik dan menggubah lagu adalah tujuan kami. Setidaknya kami melestarikan nilai-nilai filosofis dari seni dan budaya kami yang diwariskan oleh Atangki” kata Agatha sang ketua grup Sinma mantap.

Sementara Engel Ningmabin menambahkan kegiatan gerejani sering kami bawa jika kombas kami dapat giliran tugas di paroki Roh Kudus Oksibil. Rafael Tapyor yang dalam grup memetik melodi menambahkan “kepedulian akan pelestarian kearifan lokal dalam hal musiklah yang memberikan kami nafas untuk terus bergelut. Pelestarian budaya juga suatu spirit bagi kami untuk menggubah lagu dalam bahasa daerah Ngalum. Tetapi kami pun menciptakan lagu dengan memanfaatkan  situasi sosial budaya yang kami lihat dan rasakan sebagai inspirasi penciptaan lagu. Efesus Mimin mengatakan menyanyikan lagu untuk gereja adalah keharusan sebab kami sadar siapa pun yang menyanyi lebih baik sama dengan berdoa 10 kali lipat.

Lagu

Dalam perbincangan selanjutnya para personil grup mengatakan“ lagu yang ada pada koleksi kami hampir 90% merupakan gubahan sendiri, sisanya milik orang”. Khusus untuk lagu ciptaan orang, kami mesti mendapat persetujuan dari penciptanya untuk dimasukkan dalam koleksi lagu, apa lagi jika ada peluang untuk rekaman nanti. Sebagian besar lagu berbahasa Ngalum, meski ada sedikit bahasa Indonesia.

Personil dan peran

Agatha Singpanki. Berprofesi sebagai PNS distrik Pepera. Namun demikian darah seni yang mengalir dalam tubuhnya membuat ia tidak pernah meninggalkan olah suaranya. Peranan ibu Agatha dalam Grup Sinma adalah Vokalis.

Rafael Tapyor. Perannya dalam grup musik SINMA adalah pemetik gitar  Lit(melodi). Ia juga suami dari ibu Agatha merupakan sosok yang luar biasa. Sempat mengalami kebutaan selama 1 tahun lebih, tidak membuatnya patah arang dalam menekuni olah seni musiknya. Dalam kebutaan itu Rafael tetap memetik gitar hingga kini matanya kembali normal. Menamatkan pendidikan pada level SLTA di kota panas Nabire, ia kembali ke Oksibil dan bergabung dalam grup.

Engelbertus Ningmabin. Menamatkan pendidikan tingkat SLTA di Jayapura, Engelbertus Ningmabin bergabung dalam grup Sinma sekembalinya dari sana. Engel kini menjadi PNS. Seperti anggota lainnya, darah seni yang mengalir dalam dirinya selalu memaksanya menyempatkan waktu untuk berlatih musik tiap hari. Gitar iring merupakan alat yang dimainkan Engel dalam grup.

Ismail Bamulki. Memetik Bas adalah hidupnya. Dalam grup Sinma, Ismail lah satu-satunya personil yang menguasai Bass. Selama hampir 16 tahun lebih grup ini eksis, bass tidak pernah berpindah dari tangannya. Meski pun telah menjadi PNS, bakat olah seninya terus dia kembangkan dalam grup musik Sinma. Baginya Sinma adalah segalanya, tak dapat tergantikan oleh hal lain yang sifatnya sementara.

Frans Tapyor. Ukele, identik dengan Frans. Meski pun ia dapat memetik gitar Iring; semua personil Sinma sepakat bahwa Ukulele telah melekat dan menyatu dalam jiwanya. Sehingga Frans tetap dipercayakan memetik Ukulele. Lagu dan musik sesulit apa pun ia mampu menyesuaikan diri dalam mengiringinya. Profesinya sebagai petani tidak menjadikannya urung mengembangkan bakat seni yang dimiliki.

Theodorus Tayukbin. Theodorus dapat memetik gitar dan Ukulele sama baiknya. Namun dalam grup ia lebih memetik gitar. Pria peranakan Muyu dan Oksibil ini adalah pria yang riang. Kini kerja sebagai PNS di Satpol PP Pegunungan Bintang.

Efesus Mimin. Sama dengan Theo, Efesus (Efes, sapaan akrabnya dalam grup) bukan dari suku Ngalum. Beliau berasal dari suku Ketengban. Suku ini merupakan suku terbesar di kabupaten Pegunungan Bintang. Meski pun beda suku, ia dapat berbahasa ngalum karena besar di Oksibil. Gitar iring merupakan alat musik yang sering dimainkannya. Efesus dapat memetik ukulele dan bass. Namun demikian ia hanya memetik gitar. Bakat seni dalam dirinya terus ia tempa dalam Sinma dibawa arahan rekan-rekannya.

Franky Kasipmabin. Menyelesaikan pendidikan tingkat SLTA di Oksibil, Franky tetap bergabung bersama grup. Gitar iring jadi makanan sehari hari dalam latihan. Sejak selesai pendidikan Franky berkecimpung dalam dunia seni terutama musik bersama grup Sinma. Kini Franky diangkat jadi PNS. Sekali pun demikian, latihan musik (olah seni) tidak pernah ditinggalkannya. Baginya seni adalah nafas hidup.

Johnny Uropkulin. Yang terakhir ini merupakan personil yang baru bergabung tahun 2016. Baru bukan berarti tidak tahu. Sdra Johnny sudah lama malang melintang di dunia seni musik. Sering membantu grup ketika terjadi kevakuman tenaga pada saat dibutuhkan, mengantarkannya bergabung dalam Sinma. Johnny berkarakter tenang dan hidup sederhana merupakan pribadi yang piawai memainkan gitar. Karenanya semua personil sepakat menerimanya jadi anggota.

Harapan

Setiap manusia, badan, organisasi atau grup memiliki tujuan dan harapan. Demikian pula dengan grup Sinma. Semua personil dalam grup sepakat bahwa mereka merindukan suatu perubahan yang lebih baik bagi grupnya di masa depan. Harapan itu tidak lain agar mereka dapat memasuki dapur rekaman sehingga menghasilkan kaset lagu etnik Ngalum hasil ciptaannya. Karena sebagai seniman mereka yakin adanya kehidupan layak yang ditawarkan oleh dunia seni yang digelutinya selama ini. Semoga!

 

Penulis : Sostenes Uropmabin

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *