Pengaruh Modernisasi Terhadap Perilaku Remaja Dalam Berpakaian Adat Papua

  • Whatsapp
banner 468x60

OLEH ELKA MIMIN

TRIBUNPAPUA.ID—Budaya merupakan berpaduan antara akal dan budi yang sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan dalam tata kehidupan masyarakat yang dilakukan secara turun-temurun di seluruh dunia. Budaya memiliki enam unsur yang membentuk suatu kebudayaan yaitu, sistem mata pencaharian, sistem teknologi, sistem religi,  sistem pengetahuan, bahasa, kesenian.  Sistem kesenian diwujudkan dalam bentuk nonbenda maupun benda seperti tarian-tarian adat, lagu-lagu adat, alat musik lokal, aksesoris dan pakaian adat. Seperti okbul (koteka), unom (cawat) dan perlengkapan lainnya yang sering dipakai dalam kegiatan adat maupun pemerintahan bertema budaya merupakan wujud eksistensi manusia Papua.

Budaya bersifat dinamis, artinya keberadaan budaya dapat berubah sewaktu-waktu seiring berkembangnya zaman. Zaman sekarang seluruh bangsa di dunia sudah mengalami pengintegrasian antara satu budaya dengan budaya lain yang dipengaruhi oleh proses globalisasi. Berkembangnya globalisasi dipengaruhi oleh berkembangnya komputer dan internet hingga melahirkan modernisasi. Modernisasi merupakan proses pergeseran mental dan sikap sebagai masyarakat untuk hidup sesuai dengan tuntutan  masa kini.

Modernisasi menggeser segala bidang dalam tatanan sosial masyarakat yang sudah membudaya secara turun-temurun seperti gaya makan, gaya bicara dan gaya berpakaian di seluruh dunia. Menurut Bhaskar, S, (2014) “Global culture has influenced teenagers in a multidimensional manner ranging from career choices, family and community interactions, leisure activities, eating styles to clothing styles”. Artinya budaya global telah mempengaruhi para remaja secara multidimensi mulai dari pilihan karier, interaksi keluarga dan komunitas, kegiatan waktu luang, gaya makan hingga gaya berpakaian. Hasil dalam penelitian yang dilakukan Bhaskar, S, 2014 terhadap para remaja di India menunjukkan bahwa dari 100 persen para remaja India, 74,60 persen responden selalu mengenakan pakaian gaya barat, sedangkan hanya 25,40 persen yang bisa menggunakan  pakaian ketimuran atau pakaian adat tradisional.

Modernisasi yang ditandai dengan westernisasi benar-benar terjadi hampir seluruh Negara  berkembang seperti Indonesia. Khususnya di Papua sudah dan sedang mengalami perpaduan dengan budaya asing. Kenyataan yang sekarang sedang terjadi dari perpaduan budaya tersebut adalah budaya asing lebih dominan menguasai  daripada budaya lokal. Budaya asing masuk dan merasuki pola pikir dan perilaku remaja Papua dalam banyak dimensi termasuk dalam gaya berpakaian adat. Eksistensi pakaian adat sekarang ini keasliannya mengalami kemunduran. Menurut Darsana, I, K. TT  (2001) “Adanya proses globalisasi, informasi serta pesatnya perkembangan industri pariwisata, menyebabkan masyarakat …. tidak lepas dari pengaruh-pengaruh kebudayaan luar. Sehingga pakaian adat asli (kostum) untuk tari-tarian tradisional memang harus dipertahankan”.

Beberapa ciri-ciri pakaian adat asli Papua mengalami degradasi dapat dilihat dari perilaku remaja dalam berpakaian adat seperti : 1). Beberapa masyarakat Papua sering terlihat mengenakan pakaian adat seperti koteka ataupun cawat, merias wajah, memakai aksesoris lalu memakai kacamata riben atau kaca mata gaya. 2). Perempuan sering memakai kutang atau minisit ketika memakai cawat. 3). Baik perempuan maupun laki-laki sering memakai pakaian adat dengan pengalas kaki atau sepatu. 4). Pola pandang yang sering muncul pada generasi sekarang bahwa pakaian adat bukan zamannya lagi. Kemudian pola pikir ini diperkuat lagi oleh pengaruh modernisasi di kalangan remaja Papua.

Beberapa perilaku ini mengartikan bahwa degradasi keaslian pakaian adat Papua sedang terjadi. Perilaku kebarat-baratan atau westernisasi terjadi pada remaja Papua. Remaja Papua meniru secara total budaya barat baik itu bentuknya maupun isinya. Menurut Paul. S. N (dalam Mubah, S, 2011) “budaya lokal  merespon budaya asing dengan cara parrot pattern. Pola parrot pattern merupakan pola penyerapan secara menyeluruh budaya asing dalam bentuk dan isinya, seperti halnya burung kakatua (parrot) yang meniru secara total suara manusia tanpa memedulikan arti atau maknanya”.

Dalam tata cara berpakaian budaya timur lebih mengedepankan sopan dalam memilih pakaian yang hendak digunakan. Namun seiring berjalannya waktu para remaja Papua lebih memilih berpakaian terbuka. “Celana jeans bermotif robek dianggap kren dan rok mini dianggap sangat indah dan classy (berkelas). Kaum remaja yang seharusnya menjadi tonggak kebudayaan bangsa malah mengagung-agungkan … modernitas” (Mubah, S, 2011b). Ketika kalangan remaja lebih tertarik dan berperilaku kebarat-baratan, degradasi budaya dalam pakaian adat asli menjadi hal yang lumrah. Jika perilaku meniru ini dilakukan secara terus menerus akan berdampak pada punahnya keaslian pakaian adat Papua. Sehingga keselamatan akan budaya termasuk  pakaian adat Papua menjadi tanggungjawab kita bersama.

Upaya-upaya preventif demi keselamatan keaslian pakaian adat penting untuk dilakukan secara bersama-sama baik masyarakat maupun pemerintah daerah seperti, 1). Pengenalan akan pakaian adat asli kepada anak sejak  dini dalam pendidikan keluarga juga penting untuk dilakukan. 2). Pemerintah daerah seperti dinas pendidikan perlu melakukan lebih banyak kegiatan-kegiatan lomba fashionshow, misalnya dengan tema “Fashionshow Pakaian Adat Asli” pada semua kategori baik itu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). 3). Pemerintah daerah perlu memfasilitasi kaum pengrajin pakaian adat asli dalam  memproduksi, mendistribusikan hingga memasarkan seluruh perlengkapan pakaian adat asli baik dalam negeri maupun luar negeri. Agar keaslian budaya Papua tetap bertahan di era modernisasi.

 

Referensi:

Bhaskar, S, 2014. Modernization : Changing Life Style of Youth in India. Vol. 23, No. 3-4. (July-December 2014. Diakses 20 Juni 2020

Mubah, S, 2011 Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Vol. 24, No. 4, Hal. 302-308. Journal Unair. http://www.journal.unair.ac.id. Diakses 20 Juni 2020

Darsana, I, K. TT, 2007. Tata Busana Adat Bali Aga Desa Tenganan Pagringsingan Dan Desa Asak Karangasem. Institut Seni Indonesia Denpasar, Indonesia. https://core.ac.uk/reader/12238160. Diakses 20 Juni 2020

 

 

Penulis: Elka Mimin, Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *