Pendidikan Jalan Memanusiakan Manusia

  • Whatsapp
Penulis Bersama Anak didik melakukan Nonton Bersama di dalam ruang Kelas, Dok. Krsitian Talmomkesan Untuk Tribunpapua.id
banner 468x60

OLEH KRISTIAN TALMOMKESAN

TRIBUNPAPUA.ID—Pendidikan bukanlah wujud dari penindasan. Pendidikan selalu bertujuan membina manusia, diperlukan suatu lingkungan yang kondusif untuk mendukungnya. Dimana pendidik dan anak didik secara bersama sama mendunia. Sama sama menghadapi realitas sebagai sebuah persoalan yang harus dihadapi secara bersama dan tidak bisa dilakukan secara terpisah (Siti, 2004; 7).

Dalam Bukunya Siti Murtiningsih, Pendidikan Alat Perlawanan Teori Pendidikan Paulo Freire  pada halaman 7 tersebut sudah dengan jelas bahwa Pendidikan bukan alat penindasan, tetapi sarana membina manusia untuk membebaskan dari penindasan.

Pendidikan dapat mengubah diri manusia, pendidikan juga dapat merubah suatu daerah. Berbicara pendidikan berarti proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang ber­langsung sepanjang hayat atau tidak ada batasnya.

Dalam proses tersebut diperlukan guru yang memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Sekolah untuk memiliki gelar boleh dikatakan ada akhir penyelesaiannya. Akan tetapi, kita belajar pengetahuan ataupun belajar hal apa pun itu tidak ada akhir belajar.

Pada dasarnya mausia dalam kehampaan atau tidak ada air bak, jika kita mengisi maka air bak dapat mengisi artinya pikiran kita dalam keadaan  kosong tapi kita belajar maka pengetahuan di otak kita dapat terisi.

Terpanggil Jadi Pendidik

Maka dari itu, Pengalaman awal dalam pengabdian di daerah pedalaman adalah sangat muliah, penulis sebagai guru di SD Inpres Tarup, Distrik Tarup Kabupaten Pegunungan Bintang adalah Awal dari pengalaman. Bagi saya merasa sangat bahagia dan bersyukur atas kinerja Dinas Pendidikan Kab. Pegunungan Bintang. Walaupun, program tenaga guru kontrak ini sudah lama dilakukan oleh Dinas pendidikan melalui seleksi ditetapkan berdasarkan nilainya, seleksi ini diadakan pada  akhir tahun 2019 yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan, seleksinya sesuai kualitas yang dimiliki anak-anak Aplim-Apom.

Seleksi dari Dinas Pendidikan ini bertujuan menempatkan di Sekolah Dasar (SD) se-Pegunungan Bintang. Sebenarnya saya ini guru SMP dan SMA tapi karena kebutuhan daerah yang sangat mendesak sehingga siap mengabdi sesuai kemampuannya.

Melalui pengabdian di sekolah dasar membuat ada keinginan untuk mengajar pada orang dewasa yang buta huruf /aksara, buta membaca, buta menulis dan buta berhitung.

Letak Geografis Distrik Tarup

Letak Geografis Distrik Tarup bagian Timur berbatasan dengan Negara Papua New Gunea (PNG), Bagian Barat berbatasan dengan distrik  Oksibil, bagian selatan berbatasan dengan distrik Iwur,  bagian utara berbatasan dengan distrik Pepera.

Sebelum terjadinya pemekaran pada tahun 2008, tarup merupakan salah stau kampung dari distrik Iwur. Distrik ini dimekarkan karena memenuhi kriteria pemekaran seperti   wilayah luas,  penduduk, ekonomi, pendidikan, SDM, dan lainnya.Distrik Tarup mempunyai  7 kampung.

Distrik Tarup yang dimekarkan pada tahun 2008 itu higga saat ini jalan darat belum terakses dari Oksibil ke distrik Tarup maupun distrik Iwur. Jalan Raya Oksibil ke Iwur dan Distrik Tarup dalam pengerjaan.

Wajah Pendidikan Distrik Tarup Pegunungan Bintang

Secara umum pendidikan di wilayah distrik Tarup sangat rendah, bisa diukur dari pengamatan penulis selama berada di Tarup (selama 6 bulan). Rata rata penduduk dari 7 Kampung tidak berpendidikan atau belum pernah mengakses pendidikan dasar. Kesehatan masyarakat tidak mendukung, ekonomi keluarga yang berkecukupan dan infrastruktur penunjang belum disediakan.

Pada kesempatan ini Penulis menyajikan informasi seputar perkembangan Pendidikan dasar, terutama Sekolah Dasar (SD) di Distrik Tarup.

Semenjak distrik Tarup dimekarkan menjadi sebuah pemerintahan baru tahun 2008, dan mempunyai 7 kampung, hanya ada satu SD di wilayah itu. Anak anak dari 7 kampung  di wilayah distrik Tarup sekolah di SD Inpres Tarup Pegunungan Bintang.

Sejauh pengamatan penulis selama mendidik di SD Inpres Tarup, secara umum Sarana dan prasarana pendidikan di SD Inpres Tarup sudah cukup baik. Namun, kualitas pendidikan masih rendah. Karena, masih kekurangan tenaga guru, buku-buku paket, dan para peserta didik masih banyak yang belum mengetahui membaca, menulis, dan menghitung.

Sejauh ini, proses pembelajaran di Sekolah Dasar berjalan baik, walau disana sini masi harus dilengkapi dan mengejar ketertinggalan kualitas pendidikannya. Kualitas anak anak sangat rendah, anak anak  yang seharusnya sudah di bangku SMP, SMA tetapi masi sekolah di SD. Umur tidak mendukung dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Tarup. Anak anak kelas 1 sampai kelas IV tidak tau membaca, menulis dan berhitung.

Saya mencoba mengetes membaca, menulis, dan berhitung tetapi hampir semua belum bisa semua. Cara yang saya lakukan adalah mengajar membaca di sekolah pagi sampai siang dan sore hari mengajar di rumah, itu yang saya lakukan setiap hari pada siswa dari kelas I sampai dengan kelas IV lebih fokus pada kelas II sampai kelas IV yang belum bisa membaca.

Metode mengajar yang saya lakukan, selain mendidik di ruang kelas, saya mendidik mereka di luar kelas pada waktu sore hari.

Selain itu, cara lain adalah seminggu fokus membaca, minggu berikutnya fokus menulis dan berhitung dan seterusnya Saya tidak mengejar materi ajar yang disediakan dalam silabus ataupun kurikulum pendidikan Nasional, tetapi fokus membaca, menulis dan berhitung selama beberapa bulan.

Dari metode ajar yang saya lakukan, anak  didik yang serius mengikuti proses belajar ini sudah bisa membaca, menulis dan berhitung.

Siswa kelas II dari 19 siswa belum tahu membaca menulis, sekitar 5 orang sudah tahu membaca. Siswa kelas III 14 siswa belum tahu membaca,  8 siswa yang tahu membaca.

Kemudian, Siswa kelas IV ada  3 siswa yang belum tahu membaca, tetapi mendidik mereka dalam satu hari sudah bisa membaca, menulis dan berhitung.  Sedangkan, Siswa kelas V dan kelas VI sudah tahu membaca namun belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Siswa yang tahu membaca telah berhasil 20% dari guru-guru sebelumnya.

Mengawali pengambdian dengan cara membina, mendidik dengan cara tersendiri. Karena, kita sebagai guru mendidik dipercayakan oleh dinas maupun dari pihak sekolah harus mengabdi dan mendidik dengan senang hati bukan mendidik dalam keadaan pemaksaan. Supaya, dapat mengubah diri manusia dan menyelamatkan daerah melalui pendidikan. Dari pendidikan dapat mengangkat kebodohan dan buta aksara terutama pada anak-anak dan juga para dewasa yang ingin tahu, itulah kesempatan untuk menyelamatkannya.

Memanusiakan manusia melalui pendidikan adalah kepedulian kita bersama. Dengan adanya kepedulian, kita dapat membangun daerah secara bertahap yaitu, mendidk peserta didik dari nol hingga ke jenjang yang lebih  tinggi dan memiliki kualitas yang teruji. Semoga!

 

Refrensi:

Sti Murtiningsih, (2004), Pendidikan Alat Perlawanan Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire, Yogyakarta: Resist Book.

 

Penulis: Kristian Talmomkesan, Pendidik di SD Inpres Tarup, Pegunungan Bintang

Editor: Fransiskus Kasipmabin

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *