Repenandar Revolusi Pendidikan Di Papua Sangat Penting

  • Whatsapp
banner 468x60

OLEH AGUSTINUS KAKYARMABIN

 

TRIBUNPAPUA.ID–Pendidikan yang baik atau proses pemanusian manusia pada prinsipnya bukan sekedar memberi bahan pembelajaran lalu selesai. Atau mengejar kredit tertentu melainkan membentuk intensi manusia itu sendiri untuk sungguh-sungguh peka dalam pengelaman, cerdas dalam pemahaman akan pengelaman, arif dalam pertimbangan dan bertanggung jawab dalam keputusan-keputusan hidupnya.

Membentuk sejatinya adalah proses mengarahkan serta mendorong peserta didik untuk terus berjuang hingga menemukan kematangan dalam berpikir, kreatif dalam bertindak serta inovatif dalam membangun Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam.

Intensi ini akan tercapai manakala para pengajar (guru) dengan sadar mengakui intensi dari pendidikan itu sendiri dalam tanggungjawab tugasnya. Dan karyawan yang bekerja mengolah sumber daya alam seefektif mungkin. Hal ini tentu saja belum cukup. Sebab itu, sarana prasarana seperti buku-buku bacaan, serta perlengkapan belajar lainnya menjadi rekan sejati dalam proses pembelajaran tersebut. Hal ini  merupakan sesuatu yang sangat penting untuk pendidikan atau proses pembentukan para peserta didik (Flores Pos. Com 2020).

Pendidikan adalah proses formasi yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Sebab itu, pendidikan harus diprioritaskan. Namun, kondisi pendidikan saat ini cukup miris dan cukup memprihatinkan. Tercatat bahwa dewasa ini, tidak sedikit masyarakat yang cukup gelisah dengan situasi dan kondisi pendidikan hingga saat ini.

Ketidakstabilan pembelajaran serta kurangnya sarana prasarana dan juga minimnya tim pengajar, menandaskan bahwa proses pembentukan manusia cukup berjalan kurang efektif dan kurang merata yang bisa kita temukan proses pendidikan di Papua maupun Indoensia pada umumnya.

Seperti yang dilansir dalam media Kompas.com Rabu, 29 Januari 2020, memuat berita terbaru bahwa tantangan yang dihadapi oleh peserta didik Papua saat ini adalah minimnya buku bacaan di perpustakaan serta kurangnya para pengajar atau guru. Dengan minimnya buku-buku serta ditambah lagi dengan tenaga kerja atau guru pengajar yang sedikit, sekiranya mendakan bahwa proses formasi pendidikan di Papua cukup belum efektif dan belum merata.

Disisi lain pendidikan menjadi alat proses menuju perubahan dan mempersatukan suatu bangsa dengan bangsa lain. Tanpa ada pendidikan suatu negara atau daerah tidak ada perubahan. Oleh karena itu pendidikan sangat penting  dan harus diutamakan, sehingga pendidikan membawah dampak positif bagi perkembangan anak usia dini di dunia ini.  Karena itu pendidikan di daerah perlu membangun secara sistematis. Dan perlu membangun  sekolah- sekolah di  setiap daerah tanpa batas waktu. Agar pendidikan di daerah semakin maju seperti negara lain .

Repenandar adalah salah satu istilah yang mengacuh pada revolusi pendidikan anak di daerah yang tidak terjangkau. Menyadari bahwa pendidikan di Indonesia mengalami perubahan ( revolusi)  seperti negara-negara lain. Namun, di beberapa daerah masih terpinggirkan bahkan terlihat pembiaran tanpa melihat pentingnya pendidikan itu sendiri. Sehingga saat ini anak- anak di usia produktif tidak mendapatkan pola pendidikan yang baik hingga banyak mengalami pengangguran yang tinggi.  Dampak buruk inilah yang terlihat dan makin dominanan dihampir setiap wilayah di Indoensia bahkan di Papua.  Hal ini dilihat dari penegasan Bagas Susilo menurut data statistik pemerintah Provinsi Papua yang jumlahnya mencapai 61. 885 orang pada tahun 2019 (Seputar Papua.Com).

Kelihatanya pasilitas belajar mengajar lebih banyak tanpa diimbangi mutualitas pendidikan. Akhirnya kualitas pendidikan anak mengalami keburukan di Indonesia ini bukan hanya pembangunan gedung sekolah tetapi guru- guru terdidik Indonesia yang mengalami kekurangan. Sehingga beberapa daerah sudah terbangun sekolah -sekolah dengan  fasilitas yang ada  dan siswa – siswinya aktif. Hal ini juga dilihat dari kualitas tenaga pengajar menjadi sumber masalah dalam menjawab kebutuhan pendidikan dalam ilmu, iman dan moral secara komperehensip.

Banyak contoh terlihat di Papua seperti Tenaga pengajar yang sudah masuk tidak bertahan mengajar tidak berada di tempat (Tidak tabah). Karena beberapa beberapa faktor menjadi kendala: letak geografis yang cukup jauh dan menantang, kebutuhan ekonomi yang kurang memadai alias kurang berkebun,  Perbedaan karakteristik dari setiap suku yang berbeda-beda dan kurang minat belajar dari anak-anak karena maraknya pengaruh lingkungan sosial menjadi salah satu dampak. Tidak hanya itu factor ini pun lahir dari ketidakberdayaan pemerintah maupun keluarga untuk membiayai pendidikan anak.

Beberapa faktor ini menjadi ancaman bagi guru- guru maupun anak didik. Terutama tenaga pengajar yang datang dari luar Papua yang menempatkan didaerah tugas. Karena itu pemerintah daerah sebaiknya mengambil kebijakan yang tepat untuk memperbaiki pendidikan yang terarah dan terpadu yang sifatnya membangun karakter bangsa yang diaplikasikan dalam modal pendidikan adat dan budaya setempat. Agar siswa dilengkapi dengan pengetahuan adat yang memadai yang diapliksanya dalam hidup pribadi, kelompok dan komunitas sesuai perkembangan zaman.

Karena itu” Repenandar” penting dalam Revolusi Pendidikan Anak Daerah di Papua untuk menciptakan mutualitas pendidikan di Papua sesuai konteks sosial. Dengan melihat situasi dan kondisi sosial, geografis dan metode dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang efektif membangun.

Semua ini akan terlaksana jika control pemerintah menjadi utama dengan menjangkau daerah yang belum terjangkau mutualitas pendidikan. Dengan demikian, refeandar dalam revolusi pendidikan di Papua pun turut berkembang bersama daerah-daerah lain. Karena pendidikan adalah suatu proses yang sangat penting bagi manusia Papua. Kita tahu bahwa pendidikan merupakan suatu proses yang tidak akan berkesudahan.

Pendidikan setiap pribadi dibantu untuk hidup sesuai dengan norma dan aturan yang benilai. Atau mengutip bahasa Freeman Butt, pendidikan adalah suatu proses (Education Process: 22). Melalui proses ini, individu diajarkan kesetiaan dan kesediaan mengikuti aturan, mengembangkan bakat secara mandiri serta suatu proses yang membantu setiap individu untuk hidup baik dan berlaku bijak di tengah masyarakat.

Untuk itulah pada titik ini perlu diketahui bahwa pendidikan bukanlah sebuah keterberian, yang datang secara alamiah, natural dan tanpa perjuangan, melainkan suatu formasi yang terus berjuang. Sebab pendidikan adalah proses yang tidak berkesudahan dan tidak akan berakhir.

 

Penulis: Agustinus Kakyarmabin, Pelajar asal Pegunungan Bintang

Editor : Erick Bitdana

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *