SD Inpres Tarup: Anak Anak Kelas IV Tidak Tahu Membaca Menulis dan Berhitung, Salah Siapa?

  • Whatsapp
Anak Anak Tarup melatih membaca di Depan Kelas, Dok. Krsitian Talmomkesan Untuk Tribunpapua.id
banner 468x60

OKSIBIL, TRIBUNPAPUA.ID—Anak didik mengenal membaca menulis dan menghitung merupakan kewajiban sekolah atau para pendidik. Program Tiga M atau sering disebut,  CALISTUNG merupakan program prioritas seorang guru dalam mendidik anak anak di sekolah Dasar. Anak didik kelas dua II SD sudah dituntut untuk bisa bebas dari CALISTUNG. Untuk itulah pendidik mempunyai kewajiban moril agar anak didik kelas II ke atas harus tahu membaca, menulis dan menghitung.

Berbeda dengan pendidikan di kota kota yang sangat maju, orang tua mengajari anak anak dari rumah sehingga mereka bebas CALISTUNG. Anak Kota beda dengan Anak Kampung. Dunia pendidikan sangat jauh berbeda antara Kota dengan Kampung.

Anak didik di kampung secara kualitas memang berbeda, karena factor asupan Gizi, Fasilitas atau sarana pra sarana Belajar mengajar (RKB, BUKU dll), tenaga Guru yang kurang, dukungan Orang tua terhadap anak tidak ada dan dukungan pemerintah daerah belum maksimal. Disana ketimpangan pemerataan pendidikan terjadi, distribusi guru yang kurang.

Proses Belajar mengajar di kampung tidak sesuai tuntutan dan harapan kurikulum Nasional. Kalo kota kota besar mengejar tuntutan kurikulum. Misalnya, Saat Pandemi Covid-19, Anak anak di kota belajar dari rumah, menggunakan HP lewat media sosial di Internet, kalo di kampung diliburkan dan tidak pernah belajar hingga berbulan bulan.

SD Inpres Tarup, Pegunungan Bintang

SD Inpres Tarup terletak di kampung Tarup, ibukota distrik Tarup Pegunungan Bintang. SD Inpres Tarup dibuka pada tahun 2008. SD ini berkelas 6, dan pada tahun 2019 menyelenggarakan ujian Nasional dan meluluskan belasan siswa.

Menurut keterangan yang diterima pada 2 Juni 2020, tenaga kependidikan SD Inpres Tarup mempunyai 5 guru. Satu kepala sekolah, satu guru ber-SK tetap, dan 3 orang guru kontrak. Lima orang ini mengajar kelas satu sampai dengan kelas enam.

Sarana prasarana pendidikan, SD ini tergolong lengkap. Ruang kegiatan belajar mengajar 6 RKB, satu ruang kantor, perumahan guru dan ada perpustakaan. Perpustakaan sudah dibangun tetapi tidak ada buku di ruangan tersebut.

Kristian Talmomkesan, S.Pd, salah satu guru Kontrak yang ditempatkan di SD Inpres Tarup mengatakan SD Inpres Tarup merupakan salah satu sekolah model yang dibangun pemerintah daerah, kalo lihat dari lbangunan fisik lengkap,  tetapi isinya kosong dan atau masi ada kekurangan dalam alat dan bahan penunjang belajar mengajar, ucapnya.

“Infrastruktur untuk SD Inpres Tarup lengkap, RKB ada 6 Kelas, 1 ruang kantor sekolah, ada perumahan guru, ada perpustakaan, tapi masi ada kekuarangan. Misalnya alat tulis menggunakan kapur, di perpustakaan tidak ada buku buku bacaan, hanya ada beberapa buku mata pelajaran yang dibantu dari pemerintah daerah”ucapnya.

Walau sarana para sarana di SD itu tergolong lengkap, namun anak anak di SD itu harus didampingi oleh guru guru yang punya hati untuk mendidik dan mencerdasakan anak anak Tarup. Soalnya, anak anak kelas 1 sampai dengan kelas IV sebagian besar tidak tahu membaca, menulis dan menghitung.

Menurut Kristian Talmomkesan,S.Pd sebagian besar anak didik saya belum mengenal membaca, menulis dan menghitung, sehingga butuh guru yang punya hati untuk mendidik mereka mengentaskan Calistung tersebut. Anak anak yang belum bisa membaca menulis menghitung berasal dari kelas I sampai dengan kelas IV, ucapnya.

Kristian, Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia lulusan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu mengatakan “saya mencoba mengetes membaca, menulis, dan menghitung tapi hampir semua belum bisa”ucapnya.

Menurutnya, cara yang saya lakukan adalah mengajar membaca di sekolah pagi sampai siang dan sore hari mengajari mereka di rumah. Metode  itu yang saya lakukan setiap hari pada siswa dari kelas I sampai dengan kelas IV, tetapi lebih khusus pada kelas II sampai kelas IV yang belum bisa membaca,menulis dan berhitung,  bebernya.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa untuk mengentaskan Membaca Menulis dan Berhitung, saya menghabiskan waktu satu minggu melatih mereka. Tidak ada mata pelajaran yang diberikan, satu minggu hanya melatih membaca, menulis dan menghitung.

“Dari metode yang saya ajarkan selama seminggu, anak anak bisa membaca, menulis dan menghitung. Siswa kelas II dari 19 siswa belum tahu membaca menulis, sekitar 5 orang sudah tahu membaca, siswa kelas III 14 siswa, belum tahu membaca 8 siswa yang tahu membaca 4.  Siswa kelas IV 3 siswa yang belum tahu membaca hanya didik satu hari saja sudah tahu membaca dan menulis”ucap Kristian Talmomkesan, asal distrik Iwur tersebut.

Bikin Kelas Tambahan diluar Jam Belar

Kristian Talmomkesan, S.Pd bersama Anak didik melakukan Nonton Bersama di dalam ruang Kelas, Dok. Krsitian Talmomkesan Untuk Tribunpapua.id

Dalam rangkah mengejar ketertinggalan belajar pada anak anak distrik Tarup Pegunungan Bintang, dari kelas  I sampai dengan kelas IV, bikin kelas tambahan diluar jam belajar mengajar di Sekolah. Sekolah Tamabahan di sore hari diinisiasi oleh Kristian Talmomkesan, S.Pd, anak asli dari wilayah selatan tersebut.

Kristian Talmomkesan, pria Lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP USD itu menginisiai guna mempercepat membaca menulis dan menghitung bagi anak didiknya. Ia mengisahkan, “setelah pulang mengajar, sore hari anak anak yang belum bisa membaca, saya ajak mereka belajar di sore hari”ucapnya.

“Anak anak biasa datang ke rumah, atau sambil bermain di halaman sekolah saya ajari mereka membaca. Buku buku mata pelajaran yang ada di sekolah kami manfaatkan untuk latih mereka membaca. Buku buku bacaan tidak ada, jadi manfaatkan yang ada saja”ucap Talmomkesan.

Kegiatan belajar diluar jam pelajaran, dilakukan supaya anak anak cepat membaca, soalnya sudah kelas IV tetapi tidak tau membaca itu sangat sedih, kasihan juga, terangya.

Peran Guru di Sekolah, Orang Tua dan Pemerintah Daerah  

Membaca, Menulis dan Menghitung merupakan kegiatan pokok dalam proses belajar mengajar di sekolah. Anak didik maupun pendidik bersama sama menciptakan suasana belajar yang holistic yang dapat diterima oleh pendidik maupun anak didik. Menciptakan ruang Dialog antar Guru dan Murid, sehingga ada aktifitas belajar.

Pendidik merangsang anak didik untuk terus berdialog, merangsang mereka menghitung, menulis dan membaca. Pendidik Tidak hanya semata mata mengejar materi ajar yang dituangkan dalam kurikulum nasional tetapi bagaimana membangun budaya belajar yang holistik dan menyenangkan supaya anak didik bisa diterima dengan baik.

Selain itu, peran sekolah menyediakan buku buku bacaan di perpustakaan, supaya anak anak bisa meluangkan waktunya untuk membaca. Giat giat pihak sekolah membangun edukasi, tidak hanya kepala sekolah tetapi para guru, pengawas sekolah para pihak untuk bergerak bersama.

Sekolah menyediakan buku buku bacaan menjadi masalah tersendiri. Sekolah sekolah jauh dari kota, rata rata tidak ada buku bacaan anak. Sedikit hanya buku mata pelajaran yang disediakan.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan gagasan dan tawaran yang baik untuk pihak sekolah membumikan gerakan tersebut. Menyiapkan buku buku bacaan yang layak baca, menyiapkan hari wajib membaca, berdiskusi dan terus menulis. Para guru dituntut untuk menulis di media sosial.

Soal menulis pendidik di pedalaman seperti guru guru yang mengapdi Pegunungan Bintang  tidak pernah, kalo para guru di kota kota besar seperti di Jayapura, Manokwari, Merauke atau kota lain pasti ada. Tetapi kegiatan menulis merupakan kewajiban seorang guru.

Kegiatan Membaca, menulis bagi seorang guru sangat penting. Bisa mendorong dan memotifasi anak didik untuk mengikuti rekam jejak gurunya.

Selain itu, peran Orang tua sangat penting dalam mendidik anak di rumah, menyediakan buku buku bacaan yang layak, mendampingi anak membaca, menulis dan menghitung.

Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), bersama orang tua, warga kampung membangun pusat pusat pendidikan, menyediakan buku buku layak baca, sehingga anak bisa mengakses buku di taman baca masyarakat (TBM), perpustakaan kampung atau kelompok bermain lainnya. Peran pemerintah daerah menyediakan buku buku bacaan  juga sangat penting, merangsang anak membaca buku.

Tulisan panjang ini, intinya mau sampaikan bahwa anak didik mengenal membaca, menulis dan menghitung merupakan tugas semua pihak, lebih khusus Orang tua di Rumah, para guru di Sekolah, pemerintah daerah, para penggerak pendidikan bersama mencerdaskan anak anak negeri bumi Aplim Apom.

Teruslah Membaca, Menulis dan Menghitung. Anak Cerdas, Pegubin Cemerlang.  Semoga!

 

Penulis: Fransiskus Kasipmabin, Penggerak Taman Baca Masyarakat Mabin Gubin di Oksibil

 

 

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *