Wacana Pembangunan Pabrik Semen Di Wamena, Dampak Bagi Masyarakat Dan Alam Sekitarnya

  • Whatsapp
Darius Marian, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
banner 468x60

OLEH DARIUS MARIAN

TRIBUNPAPUA.ID—Adanya wacana tentang pembangunan pabrik semen di Wamena baru-baru ini menyita perhatian publik masyarakat. Wacana yang dibangun ini tidak saja menyita perhatian publik namun dibalik ini mendatangkan pro-kontra. Bahkan mengundang keprihatinan para tokoh-tokoh masyarakat lokal maupun pemuka masyarakat umum membuka suara. Keprihatinan ini lahir karena dampak buruk yang akan menimpah masyarakat Pegunungan Tengah Jayawijaya-Wamena.

Dalam situasi gejolak pro-kontra terkait wacana pebangunan pabrik Semen di Wamena, disini penulis mempertanyakan: Apakah wacana pembangunan pabrik semen telah mendapat persetujuan resmi dari Hak ulayat masyarakat setempat? Apakah sudah melakukan penelitian dan mempertimbangkan dampak buruk yang akan menimpah nasib masyarakat setempat dan nasib masa depan anak? Akankah menjamin kesejahteraan hidup masyarakat? Bukankah tempat yang hendak digali adalah termasuk wilayah tanah adat? Ataukah melahirkan wacana ini dari kalangan pemerintah demi kepentingan kapitalis?

Wacana Pro-Kontra Pembangunan Pabrik Semen di Wamena

Dalam salah satu media lokal, Wakil Ketua I DPRD Jayawijaya; Niko Kosay mengatakan bahwa “rencana terkait pembangunan pabrik Semen telah diwacanakan sejak kepemimpinan Bapak Bupati David Huby (alm), dan sampai saat ini belum ada kajian atau penelitian yang lengkap terkait rencana pengembangan Pabrik Semen di Wamena Kabupaten Jayawijaya (kawattimur /2020/06/21).  Hal yang sama juga diungkapkan oleh Primus Oagai sebagai kepala suku setempat.  Rencana ini mendapat penolakan yang keras dari berbagai pihak sehingga tidak ditindaklanjuti.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 2017, setelah  kegiatan sosialisasi HET semen di Papua, yang dilaksanakan di gedung Wio Kantor Bupati Jayawijaya;  Pemerintah Daerah melalui Sekda Kabupaten Jayawijaya, Yohanes Walilo, S.Sos. M.Si, kembali memunculkan wacana terkait pembangunan pabrik semen dalam skala mini di Wamena, Katanya:  “Kita minta juga kalau boleh kita minta ke kementerian melalui Bupati Jayawijaya kalau boleh kedepan bisa menurunkan bahkan menjawab kebutuhan di gunung ini kita harus minta membangun Pabrik Semen di Wamena dalam kapasitas mini,  (lintaspapua/14/08/2017).

Setelah beberapa tahun kemudian, 17/06/2020 dalam kegiatan Panja bersama Dinas PU Provinsi Papua, di Swisbel Hotel; Komisi IV DPRP Papua sepakat dengan pemerintah Provinsi Papua untuk pembangunan pabrik semen tersebut dengan melihat potensi bahan baku yang terdapat disana. Tujuannya untuk meningkatkan PAD setempat dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat setempat (ceposonline. 17/06/2020).

Mendengar rencana pembangunan Pabrik Semen di Wamena tepatnya di Distrik Wita-waya, yang sudah di wacanakan pada masa kepemimpinan Bupati Alm. David Huby, yang kemudian semakin gempar diperbincangkan di publik saat ini mendapat penolakan keras dari  berbagai pihak. Pada tahun 2012, Balai Arkeologi Jayapura, turut menolak wacana pembangunan tersebut dengan melihat dampak yang akan dirasakan terhadap perusakan ekologi dan situs arkeologi di wilayah yang sangat kaya dengan peninggalan-peninggalan sejarah tersebut.

Dalam menanggapi pernyataan menteri BUMN Dahlan Iskan, pada Kunjungannya bulan Agustus 2012 lalu yang menyatakan akan mempercepat pembangunan Pabrik Semen di Wamena; Hari Suroto yang juga staf balai Arkeologi Jayapura mengatakan: “Pabrik Semen tersebut akan merusak ekologi dan situs arkeologi. Rencana BUMN ini perlu dikaji ulang, mengingat daerah tersebut menjadi tumpuan hidup Suku Dani yang menempati kawasan itu” (sulteng.antaranews 29/10/2012).

Menurut kesaksian Demi Daby, rencana pembangunan pabrik semen ini sudah mengemuka pada tahun 2012. Maka mahasiswa pernah melakukan penolakan sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat yang akan mengalami dampak pabrik itu (suarapapua.com 26/06/2020).

Setelah beberapa tahun isu tersebut menghilang dan dimunculkan lagi pada tahun 2017 oleh sekda Kabupaten Jayawijaya Yohanes Walilo,S.Sos.M.Si, (lintaspapua/14/08/2017).

Kemudian pada tahun 2020 ini, isu tersebut semakin mencuat di publik.  Sehingga Penolakan pertama datang dari pemiliki hak ulayat setempat, Mewakili masyarakat Distrik Wita-waya Primus Oagai, mengatakan: Harus ada koordinasi dulu dengan kami yang memiliki hak ulayat, di Wamena ada yang namanya pemerintah daerah Bupati dan Wakil Bupati sehingga harus ada koordinasi dulu kalau sebatas wacana kami juga tidak setuju.” (ceposinline 19/06/2020).

Penolakan yang berikut disampaikan oleh Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Jayawijaya, Niko Kosay; menurutnya “apa yang telah diungkapakan oleh DPRP Provinsi terkait rencana pembangunan Pabrik semen  merupakan hal yang sangat keliru, karena sampai saat ini belum dilakukan kajian tentang rencana pembangunan Pabrik Semen di Wamena. Kajian harus dilakukan dan pelepasan juga itu semua dilakukan oleh pemerintah daerah dalam hal ini Bupati, dan rencan ini bukan kewenangan Provinsi dan itu sebenarnya salah (kawattimur 21/06/2020).

Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai lembaga yang memperjuangkan nasib orang asli Papua turut menolak rencana pembanguna pabrik semen di Wamena. Penolakan tersebut berasal dari anggota MRP melalui wakil Pokja Agama, Helena Huby yang juga merupakan perempuan asli wamena dengan tegas menolak pembangunan tersebut  dengan alasan, wamena merupakan daerah kecil dan sempit serta hanya memiliki satu aliran sungai, sehingga akan mengalami polusi udara dan pencemaran sungai akibat limbah dari pabrik. (suarapapua.com 26/06/2020).

Kemudian, penolakan datang juga dari pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Jayawijaya di Jayapura yang berhimpun dibawah organisasi “Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Jayawijaya (HIPMAJA). Para mahasiswa Jayawijaya ini mencetak sebuah baliho yang bertuliskan “Himpunanan Pelajar Mahasiswa Jayawijaya (HIPMAJA) di Jayapura ‘DENGAN TEGAS MENOLAK!!! RENCANA PEMBANGUNAN PABRIK SEMEN DI JAYWIJAYA”. Baliho yang dicetak pada 25 Juni 2020 tersebut, telah dibagikan di beberapa media sosial pribadi. Kemudian pada tanggal 26 Juni 2020 Suara Papua merilis berita penolakan tersebut. Elisu Wenda sebagai Wakil Ketua I HIPMAJA mengatakan: “kami melihat pembagunan Pabrik semen yang dipusatkan di Papua khususnya Jayawijaya dilihat dari sisi negatif dan positifnya tidak layak, karena akan merusak kekayaan alam yang ada di Jayawijaya.” (suarapapua.com 26/06/2020).

Berdasarkan adanya fakta pro dan kontra terkait wacana pembangunan pabrik semen di Wamena, yang berkembang dibeberapa media lokal tersebut, menarik untuk dianalisa dengan baik. Pada dasarnya kehadiran suatu perusahaan memang memiliki dampak positif dan negatif terhadap kelangsungan hidup masyarakat setempat.

Dampak Positif dari Pembangunan Pabrik Semen di Wamena

Berbagai upaya dapat dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Jayawijaya maupun Pemerintah Provinsi Papua; dalam rangka menekan ketertinggalan pembangunan di kawasan Pegunungan Tengah Papua yang dirasa tertinggal, akibat letak geografis yang tidak memungkinakan untuk memperlancar pembangunan. Salah satu upaya yang hendak ditempuh adalah wacana Pembangunan Pabrik semen di Distrik Wita-Waya, Kabupaten Jayawijaya.

Diprediksikan bahwa dengan adanya Perusahaan Pabrik Semen tersebut dapat memperlancar Pembangunan fisik disana. Pembangunan fisik memang sangat dibutuhkan di beberapa Kabupaten yang berada di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Wamena  sebagai pusatnya, dirasa perlu untuk menjadi tolak ukur pembangunan di beberapa Kabupaten tersebut sehingga pembangunan pabrik semen tersebut dianggap sangat diperlukan.

Dengan adanya Pabrik semen di Wamena, pemerintah Provinsi melalui komisi IV DPRP Papua mengatakan bahwa pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Jayawijaya akan meningkat; (ceposonline. 17/06/2020). Dana PAD tersebut nantinya dapat difungsikan untuk pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang terdapat di wilayah Kabupaten Jayawijaya.

Dampak positif  lain dari kehadiran Pabrik Semen di Wamena adalah membuka lapangan kerja yang cukup besar bagi masyarakat setempat. Lapangan kerja tersebut dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Dampak positif berikutnya adalah dengan adanya pabrik semen di Wamena, harga semen satu sak yang selama ini melambung tinggi dengan harga delapan ratus ribu hingga satu juta, diprediksi juga akan menurun. Sehingga membantu masyarakat setempat dapat memperolehnya dengan mudah. Beberapa dampak positif diatas menjadi alasan mendasar bagi pihak yang pro terhadap pembangunan pabrik semen tersebut.

Dampak Negatif dari Pembangunan Pabrik Semen di Wamena

Adapun dampak negatif yang akan ditimbulkan dengan hadirnya pabrik semen di wamena sangat besar. Dampak negatif dari kehadiran pabrik semen di Wamena, akan sangat beragam dalam berbagai aspek kehidupan; ekonomi, lingkungan, sosial, dan budaya. Diantaranya adalah menyebabkan kelangkaan sumber daya alam, perubahan tatanan hidup sosial masyarakat, kerusakan lingkungan habitat hidup flora dan fauna endemik, marginalisasi pekerjaan, pemudaran modal sosial, pemusnahan jejak peninggalan-peninggalan masa lalu dan lain sebagainya.

Dampak seperti ini akan dirasakan langsung oleh masyarakat setempat, apalagi masyarakat Jayawijaya yang pada umumnya hidup sebagai petani perkebunan yang mengandalkan kesuburan secara alami melalui aliran sungai balim dan udara segar masih alami hingga saat ini akan diprediksi mengalami polusi dan pencemaran yang tak terbayangkan.

Ekonomi; dampak negatif pada aspek ekonomi akan terjadi pada masyarakat kecil yang berada di sekitaran tempat pembangunan pabrik semen tersebut, mereka akan mengalami kehilangan tempat berkebun yang selama ini menjadi tempat yang menafkai kehidupan harian, termasuk biaya sekolah anak-anak mereka. masyarakat diprediksi akan mengalami penurunan kelas sosial dari petani menjadi pengangguran di daerahnya sendiri.

Lingkungan; salah-satu daya tarik wisatawan lokal maupun wisatawan asing di Wamena adalah keindahan lingkungan alamnya yang indah. Namun dengan adanya rencana pembangunan pabrik semen; Wamena akan mengalami kerusakan dan pencemaran lingkungan yang cukup besar.

Misalnya: Pasir putih yang terbentang dari Desa Aikima, Pikhe, Tulem dan Eragama akan mengalami kerusakan sebab batu karst sebagai bahan baku pembuatan semen akan di tambang disana. Akan terjadi polusi udara akibat debu dari pabrik, sebab secara geografis Wamena termasuk wilayah yang cukup kecil.

Pertanyaan tak kalah pentingnya adalah terkait pembungan limbah pabrik; jika Sungai Balim menjadi tempat pembungan limbah Pabrik maka secara otomatis kehidupan orang Wamena akan sangat diprihatinkan. Sungai Balim memiliki sejarah yang panjang dan berkaitan langsung dengan tatanan peradaban hidup orang Balim sehingga harus diperhitungkan dengan baik.

Sosial; dampak negatif lain yang akan ditimbulkan oleh kehadiran pabrik semen adalah aspek sosial, tak menutup kemungkinana akan terjadi marginalisasi pekerjaan, yang akan menimbulkan sakit hati sehingga akan terjadi pemberontakan. Walaupun, komisi IV DPRP Papua mengatakan akan mengutamakan tenaga kerja orang asli Papua (OAP) dalam hal ini mungkin yang dimaksudkan adalah masyarakat Jayawijaya, namun dengan melihat nasib masyarakat Amungme dan Kamoro yang diperlakukan oleh Freeport saat ini, menjadi pertanyaan refleksi bagi orang Wamena.

Berapa jumlah orang asli Amungme dan Kamoro yang bekerja di Freeport? Jenis pekerjaan apa yang dikerjakannya dan lain sebagainya. Agar kemudian tidak merasa dirugikan atau dimarginalisasikan dalam pekerjaan. Disini akan tercipta kelas-kelas sosial menengah yang baru karena secara life skill masyarakat setempat tidak memiliki keahlian bekerja di suatu perusahaan sehingga akan menimbulkan kesenjangan sosial antara masyarakat asli dan para pekerja pendatang.

Budaya; Wamena juga dikenal dengan keunikan kearifan lokal dan warisan budaya lokal yang sangat kaya dan menarik, sehingga menjadi salah satu tempat wisata bagi banyak wisatawan asing maupun lokal. Namun dengan adanya pembangunan pabrik semen; akan mengancam dan memusnahkan beberapa warisan budaya yang sangat berharga, seperti kebiasaan gotong-royong dalam menyelasaikan pekerjaan; secara otomatis akan hilang karena  banyak orang akan menyibukan diri untuk bekerja di perusahaan sebagai buruh harian yang mungkin imbalannya dihitung 1/jam, seperti nasib pekerja kelapa sawit di daerah trans Kabupaten Keerom.

Dampak negatif lain yang akan timbul disana adalah perusakan gua-gua yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan, sebab batu karst sebagai bahan baku pembuatan semen terdapat ditempat-tempat tersebut. Dampak negatif dari kehadiran pabrik semen yang telah diuraikan diatas akan berdampak pada pergeseran nilai-nilai hidup yang terdapat pada orang Balim

Tawaran Solutif Penulis, Potensi yang perlu dikembangkan oleh pemerintah dalam  pembangunan masyarakat lokal

Berdasarkan pengamatan pribadi, dengan melihat dampak positif dan negatif  yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa pembangunan Pabrik semen di Wamena bukan sebuah solusi yang baik bagi masyarakat Kabupaten Jayawijaya tetapi berpotensi besar merusak tatanan hidup orang Balim. Oleh karenanya, beberapa hal berikut menjadi perhatian utama untuk diperhatikan bersama.

Pertama, secara antropologis orang Hubula, suku yang mendiami wilayah tersebut memiliki kedekatan batin yang sangat mendalam dengan alam sekitar serta para leluhur yang hidup di lingkungan alam sekitar manusia bermukim, sehingga ketika pabrik semen dibangun dan beropeasi disana akan merusak lingkungan, artinya merusak relasi tersebut dan akhirnya berdampak pada kelangsungan hidup orang Balim itu sendiri.

Kedua, Secara ekonomi; mata pencaharian orang Balim adalah bercocok tanam dan beternak babi.  Dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan harian dan kepentingan upacara-upacara adat, sehingga kehadiran pabrik semen tidak akan membawah dampak posistif  bagi masyarakat Balim namun akan berdampak pada kerugian yang besar seperti yang telah diuraikan.

Ketiga, Nasib masa depan anak cucu terancam. Semua problematika terkait rencana pembangunan pabrik yang bersakala besar mana pun kerugian dan nasib malang akan selalu dialami oleh penerus orang Balim. Karena itu pertimbangan secara seksama dengan memperhatikan nasib penerus adalah tepat. Jika tidak kedepan anak cucu kita akan menjadi terasing dari tanah dan sukunya sendiri.

Oleh karena itu, jika pemerintah memeiliki niat yang murni untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dan meningkatkan ekonomi masyarakat Papua, sebenarnya pemerintah memiliki banyak solusi yang potensial bagi masyarakat setempat dengan pertimbangan kondisi setempat. Sehingga menurut penulis, pemerintah keliru mengambil langkah-langka yang ditempuh karena terkesan tidak optimal dan menguntungkan kaum kapitalis.

Menurut pengamat penulis, Solusi yang memiliki potensi dan dianggap menguntungkan masyarakat kecil secara khusus masyarakat Jayawijaya adalah membantu masyarakat mengembangkan kearifan lokal setempat.  Misalnya dengan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam bertani dan beternak, sebab masyarakat Jayawijaya memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan pertanian dan peternakan ikan maupun babi. Selain dua hal tersebut orang wamena juga memiliki keahlian dalam merajut noken, gelang dan rajutan-rajutan lokal lain yang dapat dikembangkan tanpa harus merugikan aspek-aspek lain yang sangat vital.

Aspek lain yang perluh didukung pemerintah ialah dibidang pariwisata. Wamena tak kalah menarik dari keindahan penggalan pulau dan keindahan laut di Raja Ampat ataupun bibir Pantai pulau Dewata-Bali.

Terkait ketertinggalan pembangunan di wilayah Pegunungan Tengah, sebenarnya terkendali karena transportasi yang mengangkut bahan-bahan bangunan dan lain sebagainya, namun solusinya sudah ada dan hanya perlu ditangani secara serius oleh pemerintah Provinsi Papua maupun pemerintah dengan mempercepat pembukaan jalan Jayapura-Yalimo-Wamena (Trans Papua). Ketika jalan Trans Papua beroperasi, secara total seluruh harga barang dan bahan bangunan di Wamena diprediksi akan menurun.

Dengan demikian, pemerintah Provinsi, Komisi IV DPRP Papua dan Pemda, terutama pihak-pihak yang pro dengan pembangunan pabrik semen di Wamena perlu memperhatikan dampak yang akan menimpah masyarakat dan masa depan anak dari kehadiran pabrik semen tersebut.

Kami mengharapkan “Pemerintah yang baik akan mengutamakan keselamatan rakyat bukan menghancurkan tatanan hidup rakyat dan masa depan anak”. Semoga!

 

Penulis: Darius Marian, Mahasiswa di STFT Fajar Timur, Abepura-Papua

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *