Stop Iri Hati! Mari Bersama Membangun Pegunungan Bintang

  • Whatsapp
Ilarius Lepki, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
banner 468x60

Oleh Ilarius Lepki

TRIBUNPAPUA.ID—Pandangan awal penulis berangkat dari fenomena dan realita kita. Dimana-mana, hampir setiap detik hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia ditengah situasi dan kondisi yang kadang tak menentu. Menghadapi situasi demikian, antara satu dengan yang lain pasti baku tidak senang atau dengan kata lain yaitu Iri hati. Sebab Iri hati adalah penyakit yang mematikan kehidupan seseorang, memecah bela, mencurigai bahkan menjauh dari hadapan kita sesama manusia.

Banyak orang tidak memahami bahwa iri hati itu sebuah penyakit yang sangat menghancurkan dan bahkan sangat  mematikan bagi diri sendiri. Karena dengan iri hati, segala hal yang positif dalam diri sendiri akan hilang begitu saja. Tetapi apabilah Anda termasuk yang suka iri hati setiap hari atau setiap bulan maka lebih baik di hentikan saja kebiasaan itu. Kata orang “Lebih cepat lebih baik” dari pada terlambat.

Dengan berdasar pada realita kita (konteks Pegunungan Bintang) iri hati masi terpendam dari generasi ke generasi dan itu menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat, maka  masa depan Pegunungan Bintang suram. Tidak ada masa depan yang lebih baik.

Sudah pasti bahwa yang melahirkan iri hati adalah orang-orang yang secara sehat maupun tidak sehat berambisi merebut sesuatu, dan itu menjadi bagian darinya. Keinginan untuk mendapatkan jabatan, mempojokan orang lain, menjatuhkan orang lain bahkan menghilangkan orang lain dalam bentuk apapun.

Tulisan ini lahir dari pengamatan penulis terkait beragam isu di Papua dan lebih khusus Pegunungan Bintang. Dengan maraknya netisen yang berbicara dan menyampaikan pandanganya di media sosial. Oleh karena itu,  tulisan ini  merupakan pandangan pribadi.  Sebagai keluarga, anak, adik dan kakak saling membagi pengetahuan, mencari solusi tanpa mengorbankan sesama walau dalam situasi genting itu penting bagi negerasi emas Papua saat ini.

Terkait ini penulis memfokuskan diri pada persoalan hasil CPNS di Kabupaten Pegunungan Bintang yang menurut pandangan umum sangat merugikan putra daerah tanpa keadilan menurut berita  baru-baru ini (Tribunnews, 02/08/202).

Tulisan ini juga berbicara tentang iri hati tidak terlepas dari jabatan  karena sejumlah pemimpin-pemimpin  yang ada Di Kabupaten Pegunungan Bintang (Oksibil) baik itu legislatif,eksekutif, tokoh adat, dan lainya penuh dengan Iri hati, dengki, cemburu dan bentuk label lainnya. Pemimpin-pemimpin ini yang akan melahirkan dunia iri hati karena semua pemimpin ingin jadi orang nomor satu sehingga tidak mau berikan peluang atau  kesempatan kepada saudara lain.

Bahkan hasil dari  iri hati ini juga menjadi tembok pemisa antara kakak dan adik walau lahir besar, perjuangan hidup yang sama, punya hati yang sama untuk melihat, mendengarkan jeritan masyarakat dan membangun tanpa rasa rugi sebagai kepala daerah.

Kita tahu bahwa iri hati adalah salah satu dampak negatif bagi kehidupan manusia secara keluarga, pribadi maupun kelompok. Akhir-akhir ini menurut analisa penulis, rakyat Pegunungan Bintang tidak keluar dari zona merah ini, seakan tumbuh subur dan terpeliarah tanpa introspeksi diri. Maka tidaklah salah jika beberapa waktu berjalan kedepan pada moment-moment penting lainya akan akan terlihat kurang bersahabat antara rakyat  Pegunungan Bintang  sendiri dengan pemerintah daerah, pihak militer, antar pelajar dan lainya akan terlihat terpecah-belah.

Penyebab utama ada dalam tindakan kita, cara pandang kita dalam menangani masalah, menjalankan tugas dalam setiap profesi kita masing-masing. Untuk itu kita perluh   menghilangkan  dunia iri hati karena  masih ada iri hati  maka kehancuran telah tibah, intoleransi tercipta, ketidakadilan sosial, membangun keluargaisme, sukuisme dan  meningkatnya kematian dan kepunaan menjemput kita.

Memang berbicara harus  jadi  satu pikiran, satu hati lalu membangun daerah itu sulit, tetapi baiknya dipraktekan dari sekarang dengan membuka lowongan kerja seluas-luasnya untuk anak asli daerah Begunungan Bintang supaya  anak  asli daerah bersatu, merasa diri anak daerah, memiliki tanggungjawab  untuk  membangun negeri kita tercinta Pegunungan Bintang.

Menunjung tinggi nilai budaya, mencerdasakan kehidupan bangsa dan mencapai harapan Sang Khalik. Dengarlah air sungai Digul membui menyampaikan harapan Sang Khalik, Panorama Pegunungan Bintang nan biru, dihiasi salju abadi, Puncak Mandala terlihat kudus, putihnya bagaikan kepolosan, hendak menjadi terang dibalik gerimisnya kota awan.

Kita tahu banyak suku di wilayah Pegunungan Bintang, karena itu menegakan keadilan itu penting.  Jiwa untuk membangun daerah itu selalu ada, tidak boleh membeda-bedakan suku, agama dan lainnya karena ini yang akan menimbulkan iri hati sesama manusia untuk menghancurkan masa depan. Percayalah dengan meghilangkannya iri hati di Pegunungan Bintang, lihatlah pembangunan di mana mana, pendidikan, kesehatan  juga ada  sedikit terang karena sejumlah pimpinan yang fokus untuk menerangi wajah Pegunungan Bintang.

Perluh ada kesadaran bahwa  tujuan hidup seseorang menjadi saluran hidup dan berkat bagi sesama kita tanpa membedakan.  Utamakan kepentingan umum, jahui egoisme pribadi dan kelompok. Ciptakan situasi yang nyaman bagi perkembangan hidup keluarga, berikan motivasi bagi adik-adik penerus, berikan jalan, jangan batasi masa depanya.

Berikan peluang dan ciptakan lapangan kerja bagi mereka yang telah susah paya menamatkan pendidikan. Tanamkan perasaan belas kasih dan cinta tanah air untuk masa depan yang cerah.  Ingat bahwa hidup kita hanya sekali, kita diberi kesempatan sekali, berikan hidup yang bermakna bagi keluarga, agama dan Ap I Wol. Sadarlah hidup ini  bukan dengan  cara mematikan orang lain  tetap hidup ini  untuk saling membantu satu sama lain dengan jiwa sehat.

Hidup Sehat adalah hidup yang bebas dari semua masalah rohani (mental) ataupun masalah jasmani (fisik). Hidup sehat bisa diartikan sebagai seseorang yang hidup sehat secara fisik  tanpa ada masalah kesehatan sedikitpun.  Artinya, secara sehat jasmani dan rohani, hendaknya setiap pemimpin yang muncul di ranah Pemerintahan saat ini maupun kelak di Kabupaten Pegunungan Bintang  harus membuka ruang untuk  anak asli daerah lebih banyak supaya tidak terjadi iri hati antar  kita sebagai satu keluarga, marga, suku dan daerah. Apalagi satu Ap I Wol (rumah adat). “Hilangkan dunia iri hati dan ciptakan suasana damai diatas tanah dan leluhur negeri Pegunungan Bintang.

Percayalah 10-20 tahun mendatang pastikan Pegunungan Bintang bisa bersaing dengan daerah-daerah lain di Papua.  Harus ada pemimpin yang memberikan perhatian serius dan fokus untuk membangun, memperbaiki dapur utama pencetak kehandalan kualitas sumber daya manusia Kabupaten Pegunungan Bintang. Cukuplah situasi yang mencekam telah kita lalui, setelahnya mari membangun budaya damai.

Orang tua kita telah menanamkannya dalam Ap I Wol sumber hidup. Penulis merasa, iri hati akan menjauhkan kita daerah nilai-nilai budaya sebagai warisan leluhur. Nilai-nilai religus dan nilai-nilai hidup lainya perluh dicari, ditemukan dan ditegakkan.

Penulis  sebagai penerus masa depan Kabupaten Pegunungan Bintang mengawatirkan keadaan sekarang dengan fenomena dan realita ada.   Sebagian besar dari kita berpikir besar untuk membangun pendidikan  tetapi tidak ada pimpinan yang bisa karena tembok pemisa selalu terhalang. Mengapa penekanan penulis selalu pendidikan, karena pendidikan akan merubah semua pandangan negative yang selama ini kita bangun dan terpelihara. Pendidikan adalah senajata ampuh bagi dunia dan perkembangan zaman sekarang. Jika pendidikan dibiarkan terus-menerus, dengan senjata apa bisa kita gunakan untuk melawan perkembangan zaman?

Menghakiri pandangan sederhana ini, penulis ingin menyapa para pembaca dengan puisi yang berjudul “UROPKI”.

Uropki, Pastikan sang bintang bersinar diatas awan yang cerah walau awan menutupnya.

Percayalah Gunung Aplim Apom (Mandala) adalah salah satu gunung tertinggi di Papua dan Indoensia.

Jika telah sampai dipuncak Mandala, lihatlah aku yang masih merangkak ini, arahkan aku mendekatimu, buanglah suara, jangan-jangan aku tersesat, jatuh terpeleset.

Aku juga tahu, bahwa akan akau menahan kedinginan, pasti hujan menerpah tubuhku. Aku tahu aku lemah menahan dingin, menelusuri jalan tanpa arah.

Orang tuaku pun tidak sanggup, akupun tidak sanggup mendaki,  bahaya kematian mengampiriku disetiap jurang, bukit dan lereng.

Setiap waktu aku merindukanmu uropki. Aku masih dijalan.

 

Sentani, Agustus 2020

 

Penulis: Ilarius Lepki, Pelajar asal Pegunungan Bintang, sekolah di SMA St. Antonius Padua Sentani

Editor: Erick Bitdana

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *