NANONG WENGA: Pesan Mama

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh Fr. Novilus Kalweng Ningdana

TRIBUNPAPUA.ID—Ketika seorang anak keluar dari lingkungan keluarga, suku, dan daerah untuk mengenyam pendidikan di tanah rantau dimana pun itu, tentunya Ia pasti membawah sebuah harapan dari keluarga sebagai bekal moral dalam perjalanan hidup mencari ilmu diperantuan. Harapan bahwa suatu ketika bisa menjawabi harapan keluarga.

Harapan itu pasti datang dari Mama “PESAN MAMA-Nanong Wenga”. Dalam bahasa Ngalum, Nanong/Ninong yang umum dikenal dalam dialeg bahasa Ngalum. Nanong/ Ninong artinya Mama, Weng/ Wenga artinya bahasa, sapan, pesan yang mengandung nilai kehidupan moral. Karena itu Nanong wenga adalah modal Spiritual sekaligus doa khusus dari mama.  Misalnya: Anakku jangan kenal cewek ketika masih dalam  bangku kuliah, jauhi minuman keras, jangan ikut-ikutan menggabungkan diri dalam kelompok yang tidak sehat dan jangan ke tempat hiburan yang tidak sehat dan lain- lain. Dalam pesan yg bersifat larangan Ini adalah sebuah nilai karena itu, kata “JANGAN” merupakan pesan moral.

Adapun pesan ini terdengar kecil tetapi penuh makna dan terdapat arti yang mendalam dalam seluruh perjalanan motivasi study kita serta demi mewujudkan kemajuan dan perubahan kemajuan perkembangan pribadi maupun daerah. Karenanya, Pesan Mama itu ialah sepenggal kalimat yg berisi HARAPAN yang sangat menentukan keberhasilan study kita yang akan menjawabi doa Mama, Bapa, sanak saudara, keluarga, daerah dan masa depan kita sendiri di tanah rantau.Dengan demikian pesan  Mama secara tidak langsung sudah menjadi ukuran kehidupan dan keberhasilan study di tanah rantau.

Namun hal ini seringkali berbanding terbalik dalam kenyataan hidup, dimana ketika kita tibah di kota study, kita telah memasuki sebuah dunia baru. Dunia yg lain dari harapan orang tua. Dunia yang bertentangan dengan pesan mama tadi. Dunia yang segala-galanya tersedia. Seakan-akan tidak relevan lagi dengan pesan Mama, ketika kita kontak pertama dengan dunia ini, kita lupa akan pesan mama tadi. Pesan yg kita dengar, mengerti dan simpan dalam hati, kini pesan itu ditindih oleh segala macam tawaran yang menggiurkan semua kebutuhan tubuh kita di kota study masing-masing.

Tentu semua ini tidak terlepas dari adanya persaingan dan gengsi sosial, hiburan tidak sehat, miras, teknologi, tempat- tempat rekreasi yang menyenangkan dan berbagai macam penyakit sosial yg tumbuh subur dan merajalela di kalangan muda/i sebagai sebuah jawaban “Tidak ketinggalan zaman”.

Pada hal, segalah macam hal ini mendominasi dan menyita kehidupan harian, membuat kita lupa akan pesan mama yang kita bawa dalam hidup bahkan abaikan pesan Mama karena merasa pesan kuno “tidak relevan dengan kehidupan kota saat ini dan disini. Pada hal pesan mama berisi NILAI-NILAI: Harapan, ukuran keberhasilan, kebaikan dan doa yang akan menjadi jaminan masa depan kita.

Harapan Mama akan berhasil, ketika kita melaksanakan pesan mama, disana kita peroleh berkat keberhasilan dalam study dan menjaga kehidupan itu sendiri sebagai spiritual life. Namun sebaliknya jikalau kita melanggar maka akibatnya pun semakin kita alami seperti halnya tidak berhasil dalam study, tunda/cuti, atau putus asa, kawin masa muda dan pulang kampung. Dengan demikian, kita gagal menjawabi harapan mama dan mengecewakan keluarga kita. Disini kita diharapkan menjadi anak yang berhasil dalam studi dengan memperoleh gelar sarjana, kembali melihat adik-adik kita, menjawabi harapan kampung, distrik dan daerah.

Karena itu, anak yang berhasil adalah dia yang mampu memberikan jawaban terhadap Harapan dan doa Mama. Dan yg gagal ialah anak yang tidak memberikan harapan terhadap pesan Mama.

Oleh karen itu, pertanyaannya bagi kita ialah Apakah saya sudah, sedang dalam menggumuli dan menjawabi Pesan Mama kelak? Apakah saya sudah mengikuti pesan mama dn memberikan jawaban terhadap harapan seluruh sanak saudaraku dikampung halaman? Kalau belum, bagaimana saya mewujudkannya?

Pesan bagi kita saat ini adalah kembali ingat dan refleksikan pesan mama  yang kita dengar dikala itu; kita hendak meninggalkan kampung halaman menuju tempat studi bahkan sebelum menyiapkan diri untuk menuntun ilmu di kota study mana pun itu, Jangan pernah lupa.

Ingat PESAN MAMA “Mama wanga doye, non mansiriksel e eritep Kaka yukitana. Sepa/kupa Kaka doki, Kaka dokure….tuan serep seuma ne kakayao Nok nedirip min, Boneng-Om weronki sel seribu pukon mum, abenong kamdalo Pisapaklemso Wanmangoptepsere parik morip dunparomera Uma nek Pinong bung buren moronminsel Moron. Tala minmum momona do, yasel karayong semeso Uma min. Mama Weng a tungulki kaldomora: pa wando, Ne denik yukaer ne kakayao Nok derepmin. Nek mangoltapkotomerpukon Pinong daklomep doye, sep ningbela Uma Yola ee…”

Selamat mengingat dan  merefleksikan “PESAN MAMA” dalam proses hidupmu. Ating Malipere.

 

Penulis adalah anggota Kebadabi Voice dan Aplim Apom Research Group di STFT Fajar Timur, Abepura-Papua

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *