Penderitaan Di Atas Tanah Papua Dalam Bingkai Pandangan Komunisme

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh Ferdinandus Feri Urpon

Penderitaan

Penderitaan  merupakan suatu kondisi atau keadaan di mana seseorang maupun sekelompok orang mengalami krisis kebutuhan yang paling mendasar (kebutuhan primer), seperti  pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal).  Tiga hal ini merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sebelum manusia menghadirkan kebutuhan sampingan (kebutuhan sekunder, serta tersier).  Oleh sebab itu kita manusia modern perlu menempatkan hak-hak  (terlebih hak mendasar yang sudah disebutkan ) kita sebagai suatu prioritas yang tidak boleh sama sekali dihalangi oleh siapapun juga termasuk pemerintah.

Komunisme

Komunisme merupakan sebuah ideologi  politik dan sosial yang merupakan cikal bakal dari penderitaan itu sendiri. Dari sisi politik, komuisme berperan demi kepentingan para kaum borjuis maupun bisa juga proletariat, namun jika dari sisi sosial, komunisme lebih menekankan kebebasan dan persamaan hak dan derajaan bagi kaum proletariat. Sederhananya ada penderitaan maka ada komunisme.

Hubungan penderitaan di tanah Papua dalam  pandangan komunisme

Penderitaan di tanah Papua merupakan sebuah realita yang sudah eksis semenjak tahun 60-an. Entah penderitaan ini adalah sebuah musibah atau kutukan. Satu yang pasti bahwa penderitaan ini sudah seperti  sebuah drama yang di saksikan dari tahun ke tahun. Namun, belum ada solusi yang tepat sasaran untuk menuntaskan penderitaan yang terjadi. Penderitaan seperti kelaparan, kekurangan gizi, sakit penyakit yang tidak kunjung henti, serta sumber daya alam yang dikuras habis, merupakan contoh-contoh konkret yang masih dikesampingkan oleh pemerintah.

Penderitaan merupakan kenyataan yang hampir seluruh negara miskin rasakan dan merupakan kenyataan pahit yang selalu dihadapi oleh rakyat dalam suatu negara yang disebut miskin. Jika dilihat pada tingkat internasional, penderitaan rakyat disebabkan oleh pemerintah itu sendiri atas dasar egoisme yang tinggi. “ di Nepal, pembangunan jalan pedesaan yang seharusnya dirancang untuk membantu memperingan kehidupan masyarakat miskin pada kenyataannya justru membuat kehidupan rakyat  miskin semakin sengsara karena jalan itu memacu perluasan pembangunan perkotaan dan memungkinkan para birokrat pemerintah memperluas kepentingannya ke daerah tersebut “ . sekalipun negara miskin yang masih membutuhkan bantuan masih berada dalam kenyataan pahit, namun para birokrat dalam pemerintahan masih saja mengutamakan keegoisan mereka.

Hal seperti ini yang menumbuhkan rasa kebencian pada diri rakyat kecil yang bermanifestasi pada terbentuknya kelompok-kelompok komunis demi menjatuhkan kekuasaan yang  absolut egoisme. Kejadian seperti ini juga terjadi di tanah Papua, di mana rakyat Papua di tindas dan dibuat sengsara, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah itu sendiri.  “ Gubernur Papua, mengganggap bahwa penduduk asli irian sebagai manusia-manusia yang hidup di jaman batu. Ia juga mencanangkan sebuah program  yang bertujuan untuk memisahkan anak-anak dari orang tua nya. Pada bulan desember  1987 ia mengusulkan agar ada  pengiriman dua juta  transmigran dari jawa agar secepatnya dikirim ke irian jaya, agar masyarakat lokal yang terbelakang bisa kawin silang dengan para pendatang dan bisa melahirkan generasi baru tanpa rambut keriting “.  Hal ini merupakan contoh nyata penderitaan  yang sungguh-sungguh menyengsarakan rakyat Papua di atas tanahnya sendiri.  Bukan oleh negara asing melainkan negara sendiri, bahkan oleh pemimpin pemerintah daerah sendiri.

Kenyataan yang sangat miris, yang dihadapi oleh rakyar Papua. program transmigrasi dengan jumlah transmigran berkisar hingga dua juta merupakan sebuah kekejaman  yang dilakukan oleh pemerintah sendiri. Karena secara tidak langsung telah menjual tanah sebagai ibu yang memberi makan minum bagi manusianya kepada para pendatang yang mungkin saja suatu saat mengambil alih semua aset orang Papua dan mengklaimnya menjadi milik mereka (transmigran).

Kenyataan ini menimbulkan adanya pertentangan dari kelompok-kelompok kecil rakyat Papua sendiri yang oleh pemerintah pusat (indonesia) menganggapnya sebagai kelompok separatis. Pada dasarnya Kelompok separatis adalah mereka yang ingin mendisintegrasi  suatu bangsa. Beda dengan kelompok kecil Papua yang muncul untuk menentang kebijakan pemerintah yang menyengsarakan masyarakat kecil di tanah Papua. Dalam sebuah pandangan komunis, adanya pertentangan atau perlawanan terhadap pemerintah adalah sebuah respon yan ingin menyadarkan pemerintah bahwa pemerintahannya sedang tidak baik-baik saja.  “ karl marx menyatakan bahwa secara empris, komunisme hanya mungkin terjadi lewat tindakan rakyat yang berkuasa secara kompak dan simultan “.

Pemikiran marx sangat jelas bahwa sebuah revolusi keadilan tidak akan terjadi bila tidak ada masyarakat yang kompak dan serentak secara bersamaan menuju kebebasan dan keadilan yang di dambakan oleh semua masyarakat yang menderita di bawah pemerintahan yang egois.  “ esensi dari paham komunis adalah sesosok  roh jahat. Ia terbentuk dari kebencian  dan materi sampai tingkat rendah dari alam semesta “. Kata kebencian dari esensi paham komunisme terpupuk erat dalam diri masyarakat yang merasa dirugikan atau disengsarakan  karena adanya  kediktatoran dari pemerintahan absolut egoisme.

Jika  esensi paham komunisme ini di adopsi dan diterapkan dalam kehidupan orang Papua, maka akan sangata cocok dengan kondisi yang kontekstual di tanah Papua. namun ada beberapa  poin yang perlu di garis bawahi jika esensi paham komunisme ini di terapkan dalam kehidupan serta perjuangan rakyat Papua untuk bebas dari penderitaan ini.

Pertama, kebencian.  Kebencian yang di pupuk dalam rakyat Papua boleh dipertahankan namun cukup jadikan kebencian itu sebagai motivasi dalam menggapai cita-cita bersama.

Kedua, kekerasa. Dalam paham komunisme, kekerasan merupakan kriteria penting dalam merealisasikan kebencian yang di pupuk. Namun dalam konteks perjuangan di Papua tidak harus melibatkan kekerasa karena orang Papua di kenal dengan hati yang penuh  kasih sayang. Kekerasan cukup digantikan dengan kriteria lain seperti  cintah kasih sehinggah walaupum ada perjuangan namun tidak ada korban. Agar lebih jelas dan tidak disalah pahami bahwa rakyat Papua cukup jadikan nilai-nilai dalam ideologi komunisme sebagai motivasi dalam menggapai apa yang diharapkan namun melalui jalan damai dan positif tanpa ada korban.

Pesan penulis

Ketidak adilan di tanah Papua sangat singkron dengan latar belakang munculnya paham komunisme jika di satukan dalam pemikiran yang terbuka, kritis, dan mendalam. Namun ada beberapa hal yang kita perlu gantikan atau pun bisa di jadikan motivasi dalam melengserkan kesengsaran di tanah Papua yaitu seperti yang sudah disebutkan pada bagian akhir. Semoga saja tulisan ini mampuh memupuk semangat dalam diri kader-kader muda kini agar bisa dilaksanakan namun dengan jalan positif agar hasil dari jalan positif ini bisa memanifestasikan  kebebasan orang Papua dari penderitaan di atas tanahnya sendiri.

 

Referensi:

  1. Graham hancock,  dewa-dewa pencipta kemiskinan
  2. indoprogress.com, konsepsi marx tentang komunisme
  3. ntdindonesia.com, tujuan terakhir dari paham komunis

 

Penulis adalah Mahasiswa Asal Pegunungan Bintang kursus bahasa Inggris di  IALF BALI

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *