Biarkan Pinang Dijual Oleh Tuan Sendiri

  • Whatsapp
banner 468x60

OLEH OPKI W. YUVENTUS  

TRIBUNPAPUA.ID—-Dalam perdagangan ekonomi dewasa ini, dimanakah posisi orang asli Papua untuk menjual pinang? Apakah di Papua hanya memiliki kekayaan alam yang namanya buah pinang? Tentu tidak. Di tanah Papua, kaya akan sumber daya alam yang masih utuh, mentah, yang belum diolah ke dalam bentuk barang jadi atau dalam kemasan. Maka, kekayaan alam yang saat ini masih tersimpan tersembunyi di perut bumi Papua, harus terjaga dan lestarikan agar tidak hilang begitu saja, karena rayuan-rayuan kepentingan research dari lembaga yang tidak jelas mengamil potensi kekayaan alam kita di Tanah Papua. Oleh sebab itu, kita harus melestarikan potensi dan mengelola kekayaan alam yang dari kita oleh kita untuk kita sendiri.

Bicara tentang kekayaan alam, setiap daerah di tanah Papua memiliki kekekasan kekayaan alam. Kekayaan itu, masih terpelihara secara alamiah. Nammun, dalam tulisan ini, saya mau mencoba menuliskan tentang ramainya peminat buah pinang.

Buah pinang adalah salah satu jenis buah yang dikunya oleh masyarakat Papua pada umumnya dan khususnya, buah pinang hanya terdapat di pesisir pantai. Yang kemudian, buah ini menjadi popular di seluruh tanah Papua. Dan kemudian, buah ini juga menjadi  nilai tawar ekonomi yang sangat tinggi bagi pelaku bisnis. Dimana ada kios, dimana ada para-para kecil di depan rumah, di pinggir jalan, selalu disajikan buah pinang.

Bagi peminat buah pinang, pasti tak bisa dilewatkan, harus mampir dulu untuk memanaskan mulut. Tentu makan buah pinang bagi asal muasalnya memiliki nilai/makna khusus dalam tradisi makan buah pinang. Akan tetapi, tulisan ini, hanya titik focusnya pada penjualnya (pedagang pinang).

Dalam pengamatan saya, di setiap para-para pinang, lebih banyak yang menjual pinang adalah orang non Papua. Sedangkan pemilik “BUAH PINANG” hanya sedikit. Orang non Papua sambil jualan sembako, masih saja menjual buah-buah pinang. Kenapa e? Macam tidak puas dengan dong pu usaha sembako ka? Ah, itu pertanyaan aneh tapi, ya… itu pantas dipertanyakan sebagai penulis memiliki kegelisaan sendiri. Maka saya bertanya demikian.

Orang Papua secara ekonomi, dijajah dan didiskriminasi, serta dimarjinalkan di atas surga kecil mereka. Kalau orang pendatang punya kios, warung, toko, bengkel motor, mobil, ya… cukup sudah. Biarkan pinang itu itu dijual oleh tuan sendiri. Dengan kata lain, kalau ko orang pendatang sedang jualan sembako, cukup sembako saja, biarkan pinang tu kitong orang asli Papua pemilik buah pinang saja yang jualan. Jangan maunya ko ingin mau kaya. Karena kitong pemilik negeri juga perlu belajar ekonomi di atas negeri kitong sendiri. Kitong sendiri juga bisa berdagang dan berdiri di atas kaki sendiri.

Hal ini, dilihat bahwa mama-mama di Papua, khususnya di Pegunungan Bintang, sering punya kelu kesah tersendiri. Satu hari, di rumah kaka kandung saya, dia sempat mengeluh-mengeluh gara-gara kaka pu pinang ni tra laku. Sebabnya adalah banyak orang pergi belanja pinang di orang pendatang. Lalu, dengan nada tinggi kaka de bilang, “coba orang pendatang tu kalo su buka kios, jangan lagi jualan pinang. Karena kitong juga bisa hidup ni ada pinang. Pinang satu-satunya cepat laku dan bisa dapat harga garam, sabun, bimoli, dan kebutuhan lainnya”.

Dengan keluhan kaka tadi, juga pengamatan saya sendiri sangat merasa sedih melihat mama-mama jualan sayuran, buah tomat, kadang laku dan kadang tidak laku. Yang tidak laku, mereka kasih ke kenalan, ada yang tidak laku semua hasil bumi mereka. Sedih. Tapi ya. Sudalah.

Kembali ke pinang. Pinang itu berasal dari pantai. Tapi semakin berkembang sampai ke pedalaman pegunungan. Hamper setiap hari, buah pinang menjadi salah satu pendapatan utama bagi pedagang local. Karena pinang sangat mudah memperoleh kebutuhan ekonomi tadi berupa money (uang).

Oleh karena itu, saya sering berjumpa bercerita dengan Mama-Mama di kampong saya Okpol, mereka mengeluh hal yang sama seperti yang disampaikan kaka saya tadi. Sebabnya, saya memberikan sebuah rekomendasi kepada PEMDA setempat (Kab. Peg.Bintang), supaya coba memperhatikan pedangang local dengan membuat satu perda yang dapat melindungi pedagang-pedagang local supaya mereka bisa belajar berdagang.

Pemerintah melalui Dinas Perindagkop mengadakan seminar tentang bagaimana orang belajar bisnis yang baik dan sehat. Saya yakin, dengan adanya kegiatan seminar-seminar, semakin hari mereka akan sadar dan suatu waktu mereka akan bangkit membangun ekonomi di atas negerinya sendiri dan mampu mengalahkan dan mampu membangkrut investor-investor  luar  yang sedang bergaya di atas tanahnya itu sendiri.

Semakin kita tak berdaya dibidang ekonomi, maka orang pendatang akan saking semangatnya mereka akan menghancurkan sendi-sendi ekonomi dari yang kecil-kecilan sampai ke yang besar. Maka, kalau bisa, orang pendatang stop jual pinang. Biarkan yang menjual pinang adalah tuannya. Begitu pula, hasil bumi lainnya.

Secara perhitungan nilai ekonomi, yang paling utama adalah pertama; melihat potensi, kedua; peluang pasar, ketiga adalah tantangan/hambatan. Apabila ketiga unsur ini kita memahami, bagaimana kita memanfaatkan potensi yang ada untuk memanfaatkan peluang atau kesempatan yang ada untuk memulai dalam perdagangan, juga kita harus tahu tantangan atau hambatan yang kita hadapi.

Hambatan bagi orang Pegunungan Bintang saat ini, adalah modal. Meskipun demikian, modalnya adalah niat dulu. Kalau sudah ada niat, maka mulai dari hal yang kecil sampai menuju pada hal yang besar.

Nah, saya bicara pinang karena, seakan-akan kekayaan alam di Papua itu hanya pinang melulu. Karena pinang satu-satunya orang cepat mendapatkan uang dalam transaksi pasar. Dan itu terbukti. Namun, pedagang local punya keluhan yang saya sampaikan tadi. Bahwa pinang ini berasal dari Papua, jadi kalau bisa, sodara-sodara yang bukan orang Papua tu, kalau punya kesadaran ya, biarkan kami sendiri saja jual pinang. Orang pendatang cukup jual sembako dan sejenis lainnya.

Lebih baik lagi, orang pendatang jangan melebihi orang asli dalam melakukan perdagangan ekonomi di Papua, khususnya di Pegunungan Bintang. Sebab di pinggir-pinggir kiri kanan jalan sebanyak ruko ditempati oleh orang pendatang. Orang asli disingkirkan dan kucilkan dengan usaha-usaha kios, warung-warung, rental motor, mobil, foto copy-an, sehingga tempat-tempat jualan orang asli hilang ditelan bangunan ruko.

Kapan:

Kami mau menjadi tuan di negeri sendiri tapi

Kami mau menjadi seperti mereka tapi

Kami mau belajar tapi

Kami ingin mau maju tapi

Kami sering tidak dihargai

Suara kami tak didengar,

Kepada siapa kami mau sampaikan:

Presiden? Bupati? DPR?

Camat? Kepala Desa?

Hanya dengar tapi masih diam

Harus bagaimana kami menjadi seperti mereka, di atas tanah kami sendiri?

Dan kapan, kami akan menjadi tuan di negeri sendiri?

 

Penulis: Opki W. Yuventus, Pengurus KAPP Pegunungan Bintang, Tinggal di Oksibil

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *