LINDUNGI HUTAN & STOP PENEBANGAN LIAR

  • Whatsapp
banner 468x60

OLEH OPKI W. YUVENTUS

 TRIBUNPAPUA.ID—Hutan adalah sumber hidup bagi manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal budi, sepatutnya manusia pekah terhadap lingkungan dan melestarikan hutan. Di tanah Papua, berbagai kepentingan telah meraja lelah dan mengusai alam Papua untuk mengeksploitasi kekayaan alam. Yang paling utama adalah pengambilan kayu untuk membuat perabot, bangunan ruko dan los khususnya di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Hutan sebagai sumber hidup bagi manusia, maka penting untuk dijaga, dilestarikan agar hutan terlihat hijau. Bila hutan terus diekploitasi tanpa pikir masa depan, suatu saat akan mendatangkan akibat. Akibat itu muncul seperti kekeringan, tanah tandus, tanah longsor dan sebagainya. Hutan juga penting untuk menjaga mata air. Menjaga hutan sama dengan kita menyelamatkan, hutan, dan generasi. Di Pegunungan Bintang, warga sebagai pemilik dusun, terlalu ambisius memberikan hutan atau dusun kepada para pecukong mengambil kayu dan membangun sejumlah ruko atau kios-kios, warung-warung di tengah kota Oksibil.

Tuan dusun mengizinkan orang-orang yang membutuhkan kayu untuk bangun los/ruko di kota Oksibil, terlihat sangat banyak. Tuan tanah juga memberikan tanah dengan mudah kepada para kepentingan ekonomi. Pembangunan ruko di mana-mana di bangun di Kota Oksibil. Pendropan balok, papan adalah kayu besi. Hutan di Pegunungan Bintang misalnya, di Jalan PEPERA, truk selalu keluar masuk mengambil kayu besi.

Hutan di sekitar jalan tersebut tak nampak pohon-pohon besar. Menurut warga setempat, bahwa ada oknum-oknum tertentu yang masuk ambil kayu tanpa izin pemerintah setempat. Hal ini terjadi karena tingkat koordinasi hanya melalui orang ke orang terdekat dengan memberikan jaminan tertentu sehingga para peminat yang membutuhkan kayu biasa membawa keluar sekitar 50 sampai 70 kubik ke kota Oksibil untuk bangun ruko, kos-kosan dan sebagainya.

Penulis melihat hal itu terjadi setiap hari. Apakah untuk mewujudkan suatu pembangunan yang beretiked baik melalui ukuran banyaknya kuantitas ruko yang dibangun? Lalu hutan jadi habis, pembangunan masa depan dibangun dengan apa? Ya, kita sudah harus sadar sekarang. Ketika kita hancurkan hutan, sama dengan kita hancurkan masa depan. Dimana peran pemerintah untuk mengontrol kepentingan para investor untuk melindungi hutan, menghargai masyarakat pribumi sebagai pemilik hak ulayat?, Trus di mana peran Dewan Adat Daerah sebagai lembaga kultur yang melindungi hak-hak dasar orang pribumi? Di Kabupaten Pegunungan Bintang, ada terjadi pembiaran oleh pemerintah, lembaga Dewan Adat. Lemahnya kinerja pemerintah daerah dan DAD yang   tidak koordinatif dengan masyarakat adat pemilik hak ulayat, maka orang dengan leluasa menebang hutan dan mensensor kayu dan bangun ruko dipinggir jalan kota Oksibil.

Masyarakt Pegunungan Bintang sudah harus sadar bahwa, setelah menghabiskan hutan, darimanakah anak cucu kita bangun rumah? Berkebun dan beranak cucu? Penting untuk mengambil langkah-langkah untuk melestarikan dan melindungi hutan, yaitu:

Pertama,  Setelah tebang, harus ada pengganti, yaitu menanam kembali pohon baru yang ditebang. Agar hutan jadi eksis dan menghijau. Tindakan menanam pohon, adalah kembali menyelamatkan hutan. Kalau kita sudah menanam kembali, berarti kita menghargai sang pencipta sebagai pemegang alam raya. Dengan menanam pohon berarti kita cinta dusun.

Kedua,  Pemerintah sebagai lembaga yang berdiri atas tanah adat, perlu menghargai dan mengkalkulasikan kebutuhan daerah untuk mewujudkan suatu pembangunan daerah yang bermartabat. Bukan semena-mena mengusai segala-galanya oleh karena kepentingan pembangunan nasional.

Pemeritah juga harus punya rancangan pembangunan yang menjamin rakyat dalam kesejahteraan pembangunan yang mampu berdaya saing di antaranya, pembangunan insfrastrukture, kesehatan, pendidikan, ekononim, dan kesejahteraan social lainnya yang tidak merugikan dan menghancurkan potensi kekayaan alam yang dimiliki oleh masyarakat adat di suatu daerah seperti Pegunungan Bintang khususnya.

Pemerintah bila ingin membangun daerah dengan tetap melestarikan hutan sebagai sumber hidup, maka BAPPEDA harus merancang dan kelola APBD secara baik untuk mewujudkan pembangunan yang bermutu dengan jangkauan umur pembangunan fisik antara 10 atau 20 tahun lebih.

Dulu, zamannya Drs. Theo B. Opki sebagai Ketua DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang, beliau berpikir bahwa pembanganuns fisik khusus dalam bentuk bangunan perumahan, harus dibangun menggunakan bahan baja ringan. Ia bermaksud supaya, masyarakat tetap menjaga hutan. Tapi apa yang terjadi sekarang? Ya, sudah begitulah.

Ketiga,  Lembaga Dewan Adat sebagai lembaga kultur orang Papua, selain bergerak di bidang lain, lembaga ini pula dia harus bersuara untuk melestarikan hutan. Harus ada langkah-langkah yang melakukan terobosan seperti berikan materi atau seminar tentang bagaimana sikap manusia bertindak dalam melestarikan hutan sebagai sumber hidup masa depan anak cucu Orang Asli Papua, khususnya orang Pegunungan Bintang.

Dewan Adat dan Pemerintah sebagai mitra, maka harus ada perjanjian-perjanjian yang melakukan kesepakatan untuk menjaga dan melestarikan hutan serta memberikan warning kepada masyarakat agar tidak mengancurkan hutan untuk memberikan peluang kepada investor bergerak bebas untuk mengambil potensi alam di Pegunungan Bintang. Karena dalam ukuran wilayah, Papua itu luas dan besar, tetapi Papua kecil dalam perdagangan. Oleh sebab itu, dianjurkan kepada Dewan Adat Daerah ataupun stakeholder yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang untuk stop ambil kayu sembarang dan buat bangunan yang tidak membawa keuntungan dalam PAD Kabupaten Pegunungan Bintang. Sebab yang gencar saat ini dibangun adalah ruko-ruko. Ruko-ruko yang dibangun itu kelihatannya  untuk kepentingan oknum-oknum tertentu. Walaupun yang dibangun itu pusat pelayanannya untuk public.

Oleh karena itu, penekanannya adalah stop penebangan liar dan habiskan hutan dengan nilai jual premi di atas 20-an juta, 30-an juta. Sebab ada yang bayar premi sedikit, lalu pengambilan kayu lebih dari harga pembayaran premi. Ada oknum-oknum tertentu yang biasanya membayar premi 20 juta, masuk hutan sensor kayu balok atau papan lebih 50 sampai 100 kubik dengan nilai jual 1 (satu) kubik kayu besi  Rp. 5.000.000. Anda tinggal kalikan saja 50 kubik x 5.000.000 dapat berapa? Atau 100 kubik x 5.000.000.

Sedangkan kayu putih 1 (satu) kubik Rp. 3.000.000-4.000.000. lebih untung siapa? Pemilik dusun atau yang membutuhkan kayu tadi? Ada fenomena yang sedang terjadi, tapi sayangnya masyarakat yang belum bersekolah ini sangat dibodohki oleh para investor atau pecukong. Maka dari itu, perlu masyarakat intelektual harus memberikan pemahaman kepada masyarakat kecil agar mereka tidak menjual potensi alam dengan harga yang murah. Kita memberikan pemahaman itu artinya bahwa lingkungan, tanah dimana tempat mereka tinggal itu harus dijaga. Sebab tanah ini memberikan kehidupan (Jubi-Asrida Elisabeth).

Sebelum Tuhan mencipatakan manusia, manusia pertama berwujud benda lain adalah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Jangan dilihat sebelah mata bahwa pohon itu sekedar pohon. Pohon juga bersifat manusia. Maka Tuhan mencipatakan manusia untuk menjaga dan melestarikan hutan. Suatu waktu bila hutan ditebang habis, maka Tuhan akan memberikan kutukan. Alam dan roh leluhur akan menyiksa hidup manusia.

Dalam fenomena hidup manusia di Pegunungan Bintang, orang yang sering menghancurkan alam, menjual/kontrak tanah, biasanya dosa atau hukum alam menggangu keluarga yang pemilik tanah. Istilah lain adalah Bapa yang buat, dosa kena anak. Anak yang buat, dosa kena bapak atau hubungan-hubungan keluarga dekat. Oleh karena itu, hutan di Pegunungan Bintang harus dijaga, dilestarikan agar suatu kelak anak cucu kita juga bisa menggunakannya. Karena sangat di sayangkan akhir-akhir ini, di Pegunungan Bintang semakin gencarnya masyarakat berikan peluang bagi investor untuk mengambil potensi hutan menghancurkan untuk untuk menanam saham dalam mengembangkan kepentingan kapitalisme di Pegunungan Bintang. Tindakan ini sama dengan mengancurkan serta memarjinalkan orang pribumi yang tidak punya apa-apa. Padahal mereka punya tanah, mereka punya dusun, mereka punya pohon dan segala isinya.

Tulisan ini saya sengaja memancing kepada para pembaca, agar kita mencintai alam, semkain kita dekat bersama alam, alam sebagai pemberi inspirasi dan memiliki makna kehidupan yang hakiki. Semakin kita mencintai alam dan melestarikan lingkungan, alam juga suatu waktu menjadi malaikat penyelamat manusia dari ancaman bahaya.

Dengan alam yang indah, kita dapat menikmati kehidupan, menikmati udara segar. Begitu kita semakin dekat dengan lingkungan dan mencintainya serta melestarikan, Tuhan selalu hadir dan memberikan pikiran, hati, yang bijaksana. Karena Tuhan sebagai sumber hidup, sumber infirasi terhadap manusia di alam ciptaan-Nya. Kalau kita sudah mencintai alam, juga kita mencintai Tuhan. Rasa cintanya kita kepada alam, Cinta Tuhan lebih dalam dari kita mencintai alam dan juga kepada-Nya.

Nek, Sep kaka isom, kor isom, tena, ningbel, urbob yao, pe wengaka kalsere depen, Ok Mong Nal a betyon pukon weng a. Taren, ade a wan pukyo siwol simon a do.  Dopa darek, witil, dingmo Yuma wanser a, sep tena a, tena a, pukon a pinong dokyen uma semendon.

 

Penulis; Opki W. Yuventus, Pengurus KAPP Pegunungan Bintang, Tinggal di Oksibil

 

 

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *