WPIA Peringhati Hari Dekolonisasi West Papua di PBB

  • Whatsapp
banner 468x60

OKSISING, TRIBUNPAPUA.ID—Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) kedua Dag Hammarskjold mempersiapkan proposal mengenai penyelesaian Papua dengan judul “Papua for the Papuans” (lihat Greg Paulgrain dalam The Incubus of intervention” hal  68.)

Dalam proposal itu disebutkan bahwa status Papua akan ditarik menjadi wilayah Protektorat PBB untuk kemudian dipersiapkan untuk sebuah proses demokratis yakni Hak Menentukan Nasib Sendiri “Right for  Self Determination,” seperti yang sudah berlangsung sebelumnya dengan Kamerun, Afrika.

Sekjen  PBB Ke-2 Dilenyapkan Terkait Penentuan Nasib Sendiri Bangsa Papua (Konspirasi jahat yang melibatkan Amerika Serikat, dan Keuntungan Indonesia untuk menduduki/menjajah tanah dan Bangsa Papua)

Masalah Papua dalam peta politik internasional, sudah pernah tercatat dalam agenda PBB, sebagai wilayah sengketa antara Belanda dan Indonesia. Sengketa itu berlangsung selama sekitar satu dekade, 1949-1962.

Dalam kurun waktu di atas, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) kedua Dag Hammarskjold mempersiapkan proposal mengenai penyelesaian Papua dengan judul “Papua for the Papuans” (lihat Greg Paulgrain dalam The Incubus of intervention” hal  68.)

Dalam proposal itu disebutkan bahwa status Papua akan ditarik menjadi wilayah Protektorat PBB untuk kemudian dipersiapkan untuk sebuah proses demokratis yakni Hak Menentukan Nasib Sendiri “Right for  Self Determination,” seperti yang sudah berlangsung sebelumnya dengan Kamerun, Afrika.

Proposal tersebut sedianya akan disampaikan dalam SU PBB (UNGA) Oktober 1961. Tepat sebulan menjelang SU PBB Oktober 1961, Sekjen PBB dan rombongan, mengalami “kecelakaan” pesawat di Ndola, Kongo.

Dari hasil investigasi, ternyata, ditemukan bahwa pesawat Dag Hammarskjold direkayasa untuk diledakkan dan dikaitkan dengan CIA dibawah pimpinan DCI Allen Dulels. Dalam pesawat sudah diletakkan 6 kg bom oleh agen CIA.

Dicatat  oleh Greg Polgrain, bahwa kecelakaan pesawat tersebut, untuk menghentikan proposal Dag Hammarskjold  yang bakal diajukan dalam SU PBB Oktober 1962; agar mengenai Papua, tidak boleh lagi diklaim oleh Indonesia maupun oleh Belanda.

Dalam sejarah PBB, dicatat bahwa Sekjennya diasasinasi di bawah tangan CIA, karena ada kepentingan lain yakni AS, untuk mengontrol tambang emas terbesar dan terkaya di dunia, yang ditemukan Jacques Dozy tahun 1936 di Pegunungan Carstenz.

Ketertarikan Amerika Serikat terhadap tanah Papua bermula dari laporan Jean Jaques Dozy tentang adaya harta karung tambang Tembaga/Emas di Timika, Papua

Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Namun, Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan kemudian membacanya. Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya di dunia.

Andai saja tidak ada cacatan tentang harta karung tersebut, kemungkinan cerita sejarah Papua berbeda sekarang. Catatan Jean Jaques Dozy berakibat terhadap Skandal dan pengabaian terhadap rakyat Papua yang ingin menentukan nasibya sendiri.

Hammarskjöld tidak terkenal saat menduduki jabatan itu; namun segera ia memperlihatkan bahwa ia memiliki kemampuan untuk membuat PBB yang saat itu melempem efektif. Ia terkenal sebagai pemimpin terdedikasi dengan visi luas untuk jabatannya. Digerakkan dengan kebulatan tekad pribadinya untuk efektif dengan bereaksi cepat terhadap krisis-krisis yang dihadapi, ia mencoba memecahkan masalah di tahap pertama, masalah yang ia percaya hanya akan menjadi rumit bila ditunda. Selama masa jabatannya, ia juga memperkenalkan diplomasi diam untuk membuka debat yang bisa menimbulkan konflik lebih dalam.

Dag Hammarskjöld membawa otoritas baru untuk mandatnya sebagai Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia memelihara pendirian netral dalam cara kerjanya dan menekankan tanggung jawab PBB untuk menjamin kepentingan dan hak yang berkaitan dengan. Hammarskjöld juga menggagas penggunaan angkatan perdamaian PBB dan kebijakan ini menjadi ciri tetap dalam usaha penjagaan perdamaian PBB.

Selama masa jabatannya, Hammarskjöld berhasil memperbaiki konsekuensi 3 krisis dunia: krisis Terusan Suez pada 1956, dan dalam konflik di Libanon dan Laos. Saat perang saudara pecah di Kongo, Hammarskjöld membantu meminta pasukan PBB dikirim ke daerah itu dan secara pribadi ia mencoba menengahi mereka yang bertengkar. Selama salah satu misi ini, pada 17 September 1961, Hammarskjöld terbunuh dalam kecelakaan pesawat di daerah yang kini Zambia.

Media West Papua menghormati pemimpin PBB di KTT internasional

Pertemuan puncak online internasional akan diadakan pada hari Minggu tanggal 13 September untuk memperingati karya Dag Hammarskjöld, Sekretaris Jenderal PBB, 1953–1961 – seorang juara global untuk perlakuan adil terhadap negara-negara terjajah dan negara-negara berkembang.

Pada pertemuan tingkat tinggi hari Minggu ini, para pemimpin komunitas dan politik yang berbasis di Eropa, Amerika Serikat, Australia, Pasifik dan Afrika akan menghormati kepemimpinan dan kerja keras Hammarskjöld dalam dekolonisasi, khususnya karyanya untuk negara berkembang di West Papua, dan karyanya.  prinsip ‘hak kedaulatan rakyat atas tanah mereka’.

Pendukung pekerjaan dan inisiatif yang dilakukan oleh Bapak Hammarskjöld untuk memajukan dekolonisasi Papua Barat, telah membuat video pendek tentang upacara penanaman pohon yang mereka adakan di seluruh dunia untuk menghormati karyanya dan ini akan dibagikan di pertemuan puncak.

Video-video tersebut akan disajikan kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada tanggal 29 September — tanggal dimakamkannya Hammarskjöld di Swedia pada tahun 1961.

Dag Hammarskjöld ditemukan tewas pada tahun 1961, setelah kecelakaan pesawat di dekat perbatasan Republik Demokratik Kongo di mana dia menjadi penengah konflik pasca-Kemerdekaan.  Selama masa jabatannya, dia memastikan keputusan PBB didasarkan pada ‘penghormatan terhadap hukum di mana peradaban manusia telah dibangun’ dan ‘ketaatan yang ketat terhadap aturan dan prinsip piagam PBB’.

Kematian Sekretaris Jenderal PBB, yang masih diselidiki, mencegahnya untuk mempresentasikan Program Dekolonisasi untuk Wilayah Non-Pemerintahan Sendiri di Belanda-Nieuw Guinea (Papua Barat) kepada Majelis Umum PBB tahun 1961.  Program tersebut akan menghalangi invasi tahun 1962 Indonesia ke negara bagian Papua Barat yang sedang berkembang.

Program dekolonisasi yang dipimpin oleh PBB Hammarskjöld untuk Papua Barat adalah bagian dari inisiatif OPEXnya untuk membantu negara-negara baru dan berkembang yang membutuhkan administrator dan pegawai negeri yang terlatih.  Setelah kematiannya, Indonesia menginvasi, pada Januari 1962, yang diklaim sebagai ‘negara boneka Belanda’.

KTT hari Minggu ini dan penanaman pohon untuk menghormati Dag Hammarskjöld bertujuan untuk mengumpulkan dukungan untuk mosi di Majelis Umum PBB di mana argumen terkini dan historis orang Papua Barat tentang hak kedaulatan dapat diperdebatkan.

Forum Kepulauan Pasifik (18 negara anggota PBB, termasuk Australia dan Selandia Baru) dan Kelompok Pasifik Karibia Afrika (79 negara anggota) telah meloloskan mosi dukungan persiapan untuk pendaftaran Papua Barat dalam Daftar Dekolonisasi PBB – sebuah langkah yang ditunda sejak 1961  Pengesahan mosi yang berhasil membutuhkan dua pertiga dukungan mayoritas (130 dari 193 negara anggota PBB).

WPIA: Penentuan Nasib Sendiri

Warga Pribumi Yang Tergabung dalam West Papua Interest Association (WPIA) Memperinghati hari Dekolonilaisasi pada 13 September 2020, dimana Sekjen PBB yang ke 2 mendaftarkan West Papua menjadi agenda penting di PBB untuk  mempersiapakan kemerdekaan West Papua. Mengikuti Kamerun, Afrika Yang sebelumnya menentukan Nasib Sendiri menjadi sebuah Negara.

Kegiatan itu diawali pembacaan deklarasi PBB soal penentuan Nasip sendiri Oleh Ketua WPIA, Herzen Uropkulin pada 14 September 2020 di Oksising Pegunungan BIntang. Kegiatan ini pertama kali selenggarakan di Pegunungan Bintang Papua.

Herizen mengatakan West Papua sudah daftar menjadi salah satu wilayah colonial yang harus dipersiapkan menjadi sebuah negara. “West Papua sudah didaftarkan menjadi salah satu daerah dekolonialisasi yang harus merdeka sendiri yang diperjuangkan oleh sekjen PBB ke 2”ujarnya.

Untuk itu, seluruh masyarakat pribumi west Papua harus bersatu mendukung WPIA agar negara negara anggota PBB mengakui dan menyetujui West Papua menentukan nasib sendiri.  Kegiatan ini dihadiri ratusan orang dari 13 perwakilan WPIA di seluruh Pegunungan Bintang. Pantauan media ini di lokasi kegiatan berjalan dengan lancar.

 

Sumber:

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Dag_Hammarskj%C3%B6ld
  2. http://www.satuharapan.com/read-detail/read/pbb-papua-dan-penentuan-nasib-sendiri
  3. http://terungkaplagi.blogspot.co.id/2014/04/bongkar-konspirasi-hebat-antara-john-f.html
  4. http://www.satuharapan.com/read-detail/read/sejarah-papua-yang-dipalsukanSekjen PBB Ke-2 Dilenyapkan Terkait Penentuan Nasib Sendiri Bangsa Papua

 

Penulis: Fransiskus Kasipmabin  

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *