Dualisme Sebagai Akar Konflik Dalam Kehidupan Manusia

  • Whatsapp
banner 468x60

Penulis Ferdinandus Feri Urpon)*

 

Pengantar
Dengan melihat latar belakang kehidupan yang selalu dalam pertentangan ideologi, maka penulis mencoba mengupas secara perlahan dan mendalam agar terkuak beberapa diferensiasi pandangan yang menyebabkan konfik, baik konfik yang bersifat jangka pendek maupun konflik yang bersifat jangka panjang, serta konflik internal maupun konflik eksternal. Kehidupan manusia yang dinamis, yang diiringi dengan kebutuhan serta keinginan yang berbeda-beda secara personal maupun kelompok mengharuskan timbulnya perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan. Misalkan saja, keinginan dua perusahaan untuk mengeksplorasi kemudian megeksploitasi keuntungan yang sebesar-besarnya menjadi tolak ukur perbedaan ideologi perusahaan yang menyebabkan anggota perusahaan bersinergi dan mati-matian bekerja agar kesuksesan perusahaan pun tercapai.
Keidupan manusia memang dinamis. Manusia menyadari akan hal itu sehingga selalu berinovasi dan berkreasi demi suatu tujuan yang sebenarnya dinamis juga. Kenapa dinamis? Karena tujuan yang dicapai tersebut sewaktu-waktu akan berubah seiring perkembangan jaman yang selalu menyelimutinya (tujuan manusia). Semua ini merupakan perkembangan akal manusia atau ilmu pengetahuan yang begitu populer, yang ditemukan sehingga impack dari pada itu adalah berujung pada perubahan-perubahan, baik perubahan yang secara normal maupun secara radikal dalam tatanan kehidupan masyarakat.
Pandangan umum
Dalam pertentangan suatu pandangan hidup tidak perna luput dari yang namanya konflik. Konflik sudah seperti barang komplementer. Tanpa konflik hidup tidaklah seni atau tanpa konflik hidup tidaklah unik. Dan kenyataannya memang demikian, bahwa manusia selalu dalam bayang-bayang konflik. Dualisme menjadi raja atas konflik dalam kehidupan sosial yang terjadi di mana-mana. Suatu tatanan kehidupan yang baru pun ditawarkan oleh kelompok-kelompok tertentu agar kehidupan berada di bawa payung satu komando. Misalkan saja, kaum iluminati sebagai suatu kelompok atau organisasi rahasia yang masih belum diketahui kejelasan mengenai eksistensinya namun menawarkan suatu tatanan kehidupan baru dibawah satu komando. Namun tawaran itu ditolak karena pandangan kehidupan yang sangat berbeda jauh, radikal, serta kontradiksi dengan masyarakat dunia yang bergama sehingga menjadi dualisme yang tidak dapat terselesaikan. Memang ini merupakan suatu ideologi yang berbeda secara dasariah sehingga sangat kecil kemungkinan untuk saling menerimah pandangan-pandangannya. Namun manusia yang saling menerimah perbedaan merupakan awal yang baik menuju masa depan yang cerah, sehingga manusia berusaha menciptakan ilmu serta ajaran-ajaran yang mampu mengolah mental serta moral sebagai tolak ukur perjalanan hidup manusia.
Sebab-musabab dualisme menjadi akar konflik
Dualisme sendiri merupakan suatu kontradiksi antara dual hal yang cukup signifikan, baik secara lahiria maupun batinia. Dalam KBBI (kamus besar bahasa indonesia) kata ini merujuk pada “paham bahwa dalam dunia ini ada dua prinsip yang saling bertentangan (seperti ada kebaikan ada kejahatan, ada terang ada gelap)”. Seperti yang sudah disinggung dalam judul bahwa dualisme sebagai akar konflik, tidak terlepas dari alasan-alasan tertentu yang mendasari tindakan yang dimanifestasikan dalam kehidupan sosial. Berikut beberapa alasan yang bisa saja menjadi sebab-sebab dualisme yang termanifestasi pada konflik, 1) ; ketiadaan toleransi antara sesama. Jika bicara mengenai toleransi, maka kita juga harus bicara mengenai apresiasi karena dua hal ini merupakan hal-hal dasar yang mirip dalam fungsinya, seperti toleransi terhadap umat beragama lain atau apresiasi terhadap kepemilikan seseorang terhadap sesuatu. “John Lock, seorang filsuf inggris merumuskan beberapa hak manusia. Ia mengemukakan tiga (3) natural rights atau hak kodrat, yaitu hak atas milik, hak atas kehidupan, dan hak atas kebebabsan”. Hak merupakan hal yang real, yang harus dijunjung denga cara menunjukan toleransi terhadap pemiliknya. Tidak hanya toleransi namun juga dengan mengapresiasi pemberian sang pencipta terhadap hak kepemilikan manusia yang satu oleh manusia yang lain. 2) ; manusia menjadi budak egoisme. Keinginan untuk memuaskan diri sendiri tanpa mempertimbangkan manusia lain menjadi sifat yang menggerogoti moral individu. Manusia modern menjadi budak hawa nafsu sehingga melupakan orang lain bahkan melengserkan sesama demi mencapai kepuasan diri. Namun satu hal yang jarang disadari bahwa pada akhirnya manusia akan masuk dalam mortalitas. “ciri-ciri orang egois yang paling kentara yaitu, mengutamakan kepentingan sendiri ketimbang orang lain, sulit menerimah saran sepanjang tidak menguntungkan dirinya, rasa toleransi kecil, kurang memilki empati, perhitungan, kurang pengertian, dan keras kepala.” Alasan mengapa arogansi (egoisme) menjadi salah satu alasan dalam dualisme sebagai akar konflik adalah bahwa jika kita mengkritisi tindakan memuaskan diri sendiri ini dari sisi moral maka yang kita temukan hanyalah sebuah ketiadaan. Ketiadaan yang dimaksud adalah menjadi seorang manusia dengan sebuah kepribadian yang menjadi penyebab orang berada pada kondisi tegang, yang berpotensi menimbulkan konflik. 3) ; kesalahan dalam pembuatan suatu kebijakan. Dalam sebuah tatanan kehidupan, kebijakan dianggap sebagai sebuah cara yang dapat membawa keadailan yang merata dalam kehidupan sosial. Namun kesalahan dalam pembuatan suatu kebijakan juga bisa menjadi penyebab konflik. Sehingga kebijakan yang diambil tidak semestinya berat sebelah, misalkan suatu kebijakan yang mengharuskan masyarakat di suatu negara untuk bayar pajak disama-ratakan pembayarannya, baik yang kaya maupun yang miskin. Hal ini bisa menyebabkan kesenjangan sosial, sekaligus konflik vertikal antara masyarakat dan para pejabat negara pembuat kebijakan. tidak sampai di situ, hal ini juga bisa berujung pada konflik horizontal antara yang miskin dan yang kaya, yang notabene merupakan sama-sama rakyat.
Masih banyak lagi penyebab-penyebab kontradiksi yang menimbulkan konflik, namun tiga hal ini merupakan alasan yang jarang disadari manusia sebagai makhluk yang bermoral. Tidak hanya di sadari, sebenarkan sudah menyadari namun terkadang konflik kepentingan membutahkan manusia dan mengikis akal sehat serta martabat sehingga bertindak yang berpotensi menimbulkan social anxiety terhadap sesama masyarakat.
Dualisme Dalam Sisi Lain
Jika kita telusuri lebih dalam lagi tentang dualisme dalam wajah yang lain, maka kita bisa menggunakan wajah-wajah religiositas untuk mengukur moral manusia. Sejauh mana manusia sebagai rakyat ataupun makhluk bermoral dapat berguna bagi sesama. Kita juga bisa mempertanyakannya, misalkan ajaran seperti apa yang didapat seseorang dalam religinya, yang bisa bermanfaat bagi sesama selama eksistensinya diakui?. Begitu pun kita bisa mengkritisi balik eksistensi suatu religi itu sendiri berdaarkan karya-karya nyata yang perna diperbuat. Hal ini juga menjadi dualisme yang tidak dapat dipungkiri. “hanya orang-orang yang dapat dibebaskan dari kompleksitas pengetahuan tentang kejahatan adalah orang-orang yang diindoktrinasi atau dibutahkan oleh ketidaktahuan atau emosi sehingga mereka sungguh-sungguh mempercayai bahwa kejahatan itu baik”. Di sini yang perlu digaris bawahi adalah pernyataan bahwa kejahatan itu baik. Jika kita mengkritisi kata kejahatan secara lebih eksplisit lagi dalam konteks kebaikan, maka sebenarnya keduanya merupakan dua unsur yang kontradiksi dan berbedah secara fundamental. Pernyataan bahwa kejahatan itu baik karena doktrin yang salah sejak dini secara keras sehingga secara psikis, seseorang menjasi lebih agresif memanifestasikan tindakannya secara radikal.
Solusi-Solusi Yang Ditawarkan Oleh Penulis Agar Dapat Menghindari Terjadinya Konflik Akibat Adanya Dualisme
Setelah menelaah dan mengkritisi beberapa penyebab dan gambaran umum bahaya dualisme, maka berikut beberapa solusi agar dualisme tidak membuahi konflik.
1) Memangkas habis benih-benih kepentingan yang berpotensi menyebabkan konflik. Kepentingan untuk memuaskan birahi merupakan hal duniawi yang juga dapat membuahi konflik, sehingga perlu mempertajam iman, memperkuat tekad baik, memperdalam wawasan agar tidak diadu-domba orang-orang yang berniat buruk.
2) Memperbaiki moral yang buruk dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat mempertajam hati nurani dan kegiata yang dapat memupuk empati terhadap sesama, agar ketika kita dihadapkan pada situasi yang menggoncang moral, kita bisa menghadapinya dengan hati damai.
3) Meningkatkan kritisisme. Kritsisme sangat penting bagi setiap orang, apalagi yang mengenyam pendidikan, seharusnya dapat meningkatkan kritisisme dengan cara mengadakan aktivitas intelektual, seperti membaca buku, berdiskusi, seminar dan sebagainya. Kenapa kritisisme dimasukan sebagai salah satu solusi?, karena dengan kapasitas otak yang berwawasan dan dengan pikiran yang kritis, kita mampuh untuk mengkritisi suatu persoalan yang berbau konflik, baik karena perbedaan ideologi mapun karena perbedaan kepentingan. perbedaan-perbedaan inilah yang menjadi dualisme sehingga bermanifestasi konflik.
4) Adanya pemahaman diantara sesama dalam konteks sebagai makhluk yang sama-sama diciptakan. Pemahaman ini bisa diambil dari sisi keagamaan. Jika kita melirik agama sebagai suatu wadah yang berkontribusi bagi kehidupan sosial, maka kita akan mendapati agama memberikan pemahaman mengenai pentingnya penghargaan terhadap sesama manusia sebagai makhluk yang sederajad. Hal ini baik karena agama sebagai suatu wadah penting yang mampuh memberikan pemahaman dari sisi moral dan kemanusiaan agar tidak terpengaruh terhadap adu domba yang dilangsungkan oleh oknum tertentu yang mempunyai niat jahat.
Referensi :
1. KBBI, pengertian dualisme
2. K. Bertens, perspektif etika
3. Kompas.com, egoisme
4. Keith Ward, benarkah agama berbahaya?

*Penulis adalah Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *