Sejarah Masuknya Misionaris Zending Di Wilayah Okbab Suku Ketengban, Pegunungan Bintang

  • Whatsapp
Foto Ilustrasi, Buku Menerima Misionari Menjemput Peradaban Yang di Tulis Oleh Melkior N.N Sitokdana, S.Kom., M.Eng
banner 468x60

Oleh Hakim Malo*

Penginjilan (Epangelisasi) merupakan peraktik menyampaikan kabar gembira (Injil) kepada orang lain di seluruh dunia. Pada masa ini para misionaris atau pihak Misi Katolik maupun Zending (Protestan) dari belahan dunia barat pergi menyebarkan, mengajarkan dan membaptis setiap orang yang dijumpainnya di mana pun mereka menginjakan kakinya. Maka sampailah para penginjil di wilayah pegunungan Bintang.
Di Pegunungan Bintang mereka mewartakan Injil dan membaptis orang. Terutama misi Zending dalam penginjilan di Pegunungan Bintang, Distrik Okbab yang dirintis oleh Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) dan kemudian tersebar ke wilayah suku Ketengban. Dengan benih penginjilan yang ditaburkan manusia Okbab dan umumnya suku Ketengban menerima peradaban baru. Dalam penulisan artikel ini akan secara detail menuliskan perjalanan GIDI diwilayah Okbab, Pegunungan Bintang, Papua.
Permulahan penginjilan GIDI di wilayah Okbab mulai merintis bersamaan dengan misi Katolik di Oksibil oleh misi (UFM) pada tahun 1960. Namun hanya beberapa tahun saja, setelah itu terjadi perundingan dengan Pastor Hadolf Herman Mous, OFM (Misi Katolik) dan Audy Lockhard (Zending) guna membagi wilayah, namun masyarakat Sibil lebih memilih Pastor Hadolf Herman Mous,OFM. Maka misionaris Zending memilih untuk melanjutkan misinya ke wilayah barat Pegunungan Bintang yang didiami oleh suku Ketengban.
Audy kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke wilayah barat. Namun sebelum masuk ke wilayah barat, ia bejalan melewati perbatasan RI-PNG arah timur Pegunungan Bintang lalu dari timur ke wilayah barat. Setelah masyarakat Sibil menunjukan jalan lalu misionaris tersebut bermalam di Mangabip. Kemudian keesokan harinya melanjutkan perjalanannya sampai bermalam di Kubipkop. Dari Kubipkop ia melanjutkan perjalanan sampai tiba di Pelebip atau (Kiwi). Di sinilah ia membuka pos pertama pelayanan misionaris GIDI. Setelah beberapa hari di situ, ia mengukur lapangan terbang untuk mendukung pelayanan misinya sambil memberikan pelayanan misinya kepada penduduk setempat. Ia kemudian membuka sekolah buta huruf untuk mendukung pelayanannya. Beberapa tahun Audy melakukan pelayanan di situ sambil mengajar sekolah buta huruf.
Di Kiwi pula tinggalah beberapa penduduk Okbab. Karena penduduk Kiwi dan Okbab memiliki bahasa daerah yang berbeda yakni bahasa Ngalum dan Ketengban, maka Audy yang sudah tinggal beberapa tahun di Kiwi merasa aneh dan bertanya kepada orang-orang Okbab itu, “kalian dari kampung mana? mereka menjawab kami bukan dari daerah ini tapi kami dari wilayah Ketengban, tepatnya di wilayah Okbab. Setelah pendeta itu mengetahui asal mereka ia bertanya kepada mereka bisakah kalian antarkan saya ke sana? setelah mereka bersedia mengantarkannya maka ia menyiapkan beberapa perlengkapan sebagai bekal dalam perjalanan. Sebelum ia berangkat ia mempercayakan orang-orang asli di situ untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah dirintisnya, lalu mereka berangkat dan diantarkan oleh beberapa orang Yapil itu. Orang-orang yang mengantarkan pendeta ini belum sempat disebutkan namanya.
Kemudian mereka bermalam di Tuplum. Di Tuplum mereka bermalam tiga hari lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Yapil (Kumul Pasik). Orang pertama yang menerima misionaris di Yapil adalah Teptepyoneng Urwan lalu diganti namanya menjadi Yusuf Urwan dan istrinya Walangto Wisal setelah mereka menerima pendeta di rumah hutan karena sebelumnya mereka tidak diperkampungan. Dari situ mereka memutuskan untuk berjalan ke Yapil perkampungan untuk mengukur lapangan terbang demi menjangkau pelayanan. Ia membuka pos Yapil pada tahun 1970 dan setelah itu ia kembali lagi ke Kiwi untuk beberapa saat. Sebelum ia ke Kiwi pendeta memilih Urbanism Payumka sebagai mandor pekerja lapangan terbang Yapil.
Di Kiwi lapangan terabang sudah terlesai dan siap mendaratkan pesawat sehingga ia melaporkan ke pusat UFM untuk menambah beberapa orang lagi. Dan dua misionaris yang datang waktu itu adalah tuan Akal dan tuan Tain. Mereka berdua bertugas di Kiwi dan tuan Audy Lockhard memutuskan untuk kembali ke Yapil.
Bersama beberapa orang asli, yaitu Ben, Kitok, Nangnong, Woky, Dainer Tepmul, Okngan Tepmul, Tuky, dan Petrus mereka inilah yang mengikuti pendeta sekaligus pendeta merekrut mereka menjadi pekerja lapangan terbang Yapil. Ketika mereka tiba di Yapil ternyata lapangan terbang sudah hampir selesai dan pesawat jenis Cessna bisa mendarat. Maka pendeta mendatangkan dua misionaris lain lagi di Yapil untuk mendukung pelayanan di wilayah Yapil dan sekitarnya.
Beberapa bulan kemudian mereka melanjutkan misinya ke Banem Dup (Maksum). Dalam perjalanan ke Maksum hanya pendeta Audy yang berjalan sampai tidur di tengah hutan sampai paginya tiba di Maksum pada jam 10 WIT. Saat pendeta tiba di Maksum orang-orang pertama yang menerima pendeta Audy antara lain: Potongneng Mul, Poptalip Wisal, Popdap Urwan, Murumneng Urwan, mereka menerima pendeta lalu mereka menjamu pendeta di rumah adat (Bokam). Beberapa jam kemudian mereka kumpulkan semua penduduk Maksum untuk diskusi mengenai apa yang akan mereka lakukan dengan orang baru tersebut.
Saat itu juga misionaris Katolik terlebih dahulu masuk di wilayah Okbab tetapi tidak sampai di Maksum. Tetapi misionaris Katolik buat kem di antara Maksum dan Bum sehingga masyarakat Bum semua ikut serta dalam penyambutan misi Katolik di situ. Lalu masyarakat Maksum memutuskan untuk harus bekerja sama dengan warga Bum di atas karena warga Bum dalam geografisnya adalah yang nantinya akan menjadi masyarakat Maksum yang saat ini. Maka masyarakat Maksum mengirimkan Potongneng Mul dan Poptalip Wisal untuk naik ke kampung Bum di atas. Sesampai di atas semua tetua kampung itu sudah berada dikemnya misionaris Katolik sehingga mereka naik dan menyampaikan beberapa pesan untuk ikut serta dalam penyambutan misionaris GIDI di Maksum. Setelah mereka diskusi beberapa menit, kemudian masyarakat Maksum dan Bum sepakat lalu harus gabung dengan warga Seta lalu mereka mengutus Potongneng Mul dan diikuti oleh Kinimre Keduman yang dari warga Bum untuk kampung Seta supaya mereka harus bersatu menerima orang baru di daerah mereka. Setelah dua utusan tersebut ke kampung Seta, Poptalip Wisal kembali ke Maksum.
Sesampai di Seta mereka sepakat dan mengirimkan dua kepalah suku yaitu Popdap Mallo dan Pepan Mallo. Sebelum mereka ke Maksum mereka membunuh seekor lalu bawah ke Maksum sebagai ucapan selamat datang. Mereka bakar batu bersama pendeta Audy Lockhard. Pendeta itu berdoa untuk mereka dan pelayanan serta tantangan yang akan ia hadapi dalam pelayanannya. Kemudian setelah acara doa syukuran selesai mereka menceritakan bahwa ada misionaris lain yang sudah ada sebelum ia tiba. Ia memutuskan untuk mereka harus ke atas pada pagi hari. Keesokan harinya jam 07:00 WIT mereka naik ke kampung Bum. Sesampai di perkemahan misionaris Katolik, sebelum pendeta berbincang-bincang dengan pastor, pendeta berdoa tapi hanya beberapa kalimat saja yang ia ucapkan yakni “Ya Tuhan dengan kuasa-Mu, saya akan melakukan pelayanan ini. Amin”. Setelah itu ia bertemu pastor dan berbincang-bincng dengan pastor beberapa menit lalu ia kembali ke Maksum bersama beberapa kepala suku yang mengikuti dia. Dalam perjalananya pendeta meminta mereka untuk kembali ke perkemahan pastor pada sore hari nanti sesuadah itu 3 kepala suku yang mendiami daerah itu mengumpulkan semua warga dan mereka bersatu menerima pendeta sampai sore hari. Setelah itu mereka kembali lagi ke Bum untuk bertemu pastor dan mereka berbicara lagi. Kemungkinan besar mereka membicarakan untuk wilayah pelayanan.
Setelah mereka sepakat paginya pastor kembali ke Dekidam Pasikne (Sabin) bersama beberapa rombongan yang mengikutinya. Pendeta memulai misinya dengan mencari tempat yang layak untuk membuka lapangan terbang, setelah ia mengukur tempat untuk membuka lapangan dan mulai mereka tebang pohon dan kerja. Lalu Pendeta kembali ke Yapil sendirian. Sesampai di Yapil, ternyata lapangan terbang Yapil sudah mulai mendaratkan pesawat jenis Cessna lalu pendeta meminta penambahan misionaris ke UFM. Kemudian mendatangangkan dua misionaris yaitu Tuan Yahuck dan Tuan Fowler. Mereka berdua adalah misionaris asal Kanada. Setelah mereka tiba tuan Audy membawa mereka ke penginapan. Keesokan harinya pendeta berangkat ke Hollandia (Kini Jayapura). Beberapa minggu kemudian ia turun di Kiwi sekalian untuk memantau pelayanan di Kiwi.
Setelah beberapa minggu di Kiwi ia kembali ke Yapil dan mengajak ke dua misionaris yang sudah tinggal lama melayani warga Yapil untuk ke Maksum bersama Dainer Tepmul. Sesampai mereka di Maksum mereka melihat penebangan pohon untuk lapangan terbang sudah selesai. Pendeta menamakan daerah itu Merah Palina karena ia melihat dari jenis tanah di situ agak berwarna merah. Satu tahun kemudian pada tahun 1972 pendeta membangun sekolah buta huruf untuk mendukung pelayanan dan mendidik para pemuda untuk menjadi penerjemah bahasa dalam pelayanannya. Di samping itu pendeta mempersiapkan orang-orang yang ia tentukan untuk mempersiapkan baptisan pertamanya.
Sebelum melakukan pembaptisan tepatnya di tahun 1973 terjadi perang agama antara umat Katolik dengan GIDI. Terjadinya perang ini bukan karena perebutan wilayah pelayanan katolik dengan GIDI, namun karena ketidakterimaan umat Katolik terhadap misi GIDI di wilayah yang di klaim sebagai wilayah misi katolik. Sebelum terjadi peperangan tersebut beberapa tetangga dari Dekidampasikne (Sabin) sudah memberitaukan informasi tersebut secara diam-diam, maka informasi tersebut sudah tersebar di antara masyarakat Merah Palina (Maksum), bahkan pendeta juga sudah mengetahi hal tersebut. Kemudian pendeta menyampaikan jika mereka datang jangan kamu apa-apakan mereka sampai kalian lihat mereka berbuat sesuatu yang berlebihan terhadap saya maka kalian harus bertindak sesuai keinginan kalian. Mereka menyetujuinya, lalu melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulai setahun yang lalu. Beberapa menit kemudian datanglah orang-orang yang tidak menerima kehadiran pendeta Audy. Tanpa berkata-kata mereka langsung menyerang pendeta menggunakan anak panah dan parang. Syukurlah pendeta tidak mengalami kecelakaan lalu ia memerintahkan warganya untuk menyerang mereka. Karena perang masih sengit sehingga pihak pemerintah Indonesia mengirimkan militer (TNI) untuk mengangamankan warga. Mereka turun di Yapil kemudian berjalan kaki sampai di Merah Palina (Maksum) dan mereka melanjutkan perjalanan sambil mengejar pelaku kerusuhan itu sampai tiba di Oksibil dan kembali ke Jayapura.
Setelah tentara-tentara itu kembali beberapa warga yang ikut dalam operasi itu mereka pun kembali ke Maksum. Setelah kejadian tersebut pendeta melakukan baptisan pertama, nama-nama yang menerima baptisan pertama adalah Gerson Wasini, Karlos Kaleyala, Semuel Mimin, Ef Mimin, Beyu Malo, dan lainya. Mereka ini menjadi pahlawan iman dan perintis bagi daerah-daerah lain yang belum menerima injil.
Setelah dua tahun lebih melayani di kampung Maksum serta mendidik masyarakat setempat pendeta kemudian melanjutkan misi pelayanannya ke Aremdam (Peneli). Ia tidak sempat singga di Borban tetapi ia langsung ke Aremdam (Peneli). Sesampai di Peneli di sana mereka masih melakukan upacara ritual adat sehingga semua orang tidak bisa bertemu satu sama lain. Namun ada beberapa orang yang sempat bertemu pendeta pertama adalah Bagonga Uropka, Laineng Uropka dan lainnya. Tujuannya ialah melihat tempat yang cocok untuk membangun pos yang layak karena di Merah Palina atau (Maksum) sulit mendapatkan air bersih. Setelah beberapa jam di Aremdam (Peneli) ia kembali ke Borban. Ia melihat bahwa di Borban bisa mendapatkan air bersih maka ia memutuskan untuk membangun post utama di Borban guna memenuhi pelayanannya.
Setahun kemudian pada tahun 1974 sudah jadi lapangan terbang Borban sekaligus dengan rumah pos pelayanan. Beberapa misionaris lagi didatangkan diantaranya Larry Cole dan kawan-kawannya. Setelah tiba mereka langsung menyesuaikan dalam pelayanannya. Besoknya setelah kedatangan mereka tuan Audy bertaya kepada warga setempat di Merah Palina (Maksum) apakah ada orang lain di wilayah ini ataupun di bagian barat daerah ini? mereka menjawab masih ada keluarga kami di bagian barat wilayah ini kami di sini hanya sebagai pendatang yang menetap. Kemudian pendeta berkata kalian harus mengantarkan saya ke sana untuk menyampaikan firman TUHAN supaya mereka juga berdamai seperti kalian saat ini. Lalu mereka bersedia untuk mengantarkan Misionaris setelah mereka menyetujuhi pendeta Audy bersedih mengirimkan Larry Cole dalam misi tersebut. Dalam perjalanan tersebut yang menjadi pemandu jalan antara lain, Beyu Mallo sebagai penerjemah bahasa Ales Keduman, Gerson Wasini (Penerjema), Kwaip Keduman, Irban Keduman, Kinimre Keduman, Bontapu Wasini, Boas Mallo (Penerjema), Semuel Kulka, Paramre Wasini, Dainer Tepmul (penerjemah). Mereka memandu jalan menuju distrik Bime. Setelah misi di Okbab diambil ahli oleh beberapa misionaris maka pendeta Audy Lockhard kembali ke Amerika sebagai akhir dari pelayanan misinya setelah Okbab sudah menerima injil dan hidup berdamai satu sama lain.
Ada beberapa misi yang menyusul setelah UFM yaitu, MAF, RBMU, YFMK kehadirian beberapa misi tersebut guna mendukung pelayanan UFM. Setelah keberangkatan pendeta Audy pendeta Larry Cole dan rombongannya, 3 hari kemudian mereka tiba di Bime. Lalu pemandu-pemandu jalan ini mereka mempunyai keluarga bersama masyarakat Bime tepatnya di kampung (Calap). Kemudian para pengikut misionaris itu menceritakan kehadiran mereka di sana dan apa yang akan mereka lakukan. Kesokan harinya pendeta melakukan survei tempat untuk membuka lapangan terbang. Selama dua tahun pelayanan di Bime tidak ada hambatan yang dihadapi misionaris beserta pemandunya.
Pada tahun 1977 terjadi gempa bumi yang sangat besar. Hal ini menyebabkan korban rumah, kebun, dan akhirnya nyawa. Warga yang mengalami luka-luka di hantar ke Jayapura untuk berobat. Kemudian pada tahun 1978 mereka melajutkan misinya ke Nongme. Dalam perjalanan ke Nongme dipandu oleh beberapa kepalah suku dari Bime dan beberapa pemandu asal Maksum beserta Dainer Tepmul. Daniel Tepmul merupakan pahlawan iman dan perintis yang berasal dari Kiwi yang menjadi saksi pelayanan misi di wilayah Ketengban. Sesampai di Nongme pendeta hanya membuka lapangan terbang untuk mendukung pelayanan dan membuka pos pelayanan. Mereka lanjutkan pelayanan ke Borme. Di Borme ternyata dari misi YFMK sudah membuka pos pelayanan namun sistim kerjanya sama dengan UFM sehingga pendeta Larry Cole hanya hadir sebagai misi UFM. Tetapi hanya beberapa bulan saja bekerja sama dengan YFMK lalu ia dan rombongannya kembali ke Bime. Dalam perjalanannya mereka singgah di Nongme untuk memantau perkembangan pekerjaan yang sudah dirintisnya kemudian mereka kembali ke Bime. Dan pendeta Lerry Cole memusatkan untuk memusatkan pos pelayanannya di Bime agar menjangkau pelayanannya di bagian barat suku Ketengban.
Selama beberap bulan di Bime, pendeta Lerry Cole melihat perkembangan dan semangat masyarakat untuk menerima injil yang luar biasa sehingga ia menanyakan beberapa kepala suku lagi katanya, apakah di bagian barat dari daerah ini ada orang lain selain kalian? maka mereka menjawab ada orang lain sambil menunjuk daerah tersebut. Maka pendeta memutuskan untuk melanjutkan misinya di bagian barat wilayah Ketengban. Dipandu oleh beberapa kepalah suku beserta beberapa dari Okbab mereka melakukan perjalanan misinya sampai mereka tiba di Ipumek. Namun ternyata di sana sudah terlebih dahulu dirintis oleh geraja Reformasi sehingga mereka pergi hanya memperbaiki lapang terbang yang sudah dikerjakan lalu kembali.
Beberapa pemandu jalan dari Okbab pulang dari Ipumek. Setelah tinggal beberapa hari mereka diminta menjadi pemandu jalan untuk melakukan perjalanan misi ke wilayah Oksop di bawah pimpinan Yosias Kakyarmabin, Eff Mimin dan beberapa orang lainnya. Untuk perjalanan, karya dan misi penyebaran injil di wilayah Oksop penulis tidak dapat menjelaskannya secara detail namun menyebutnya sebagai bagian dari misi pelayanan di Okbab.
Setelah pelayaran misi selesai dibuka sekolah alkitab bahasa daerah bernama Imanuel Borme oleh yayasan YFMK untuk mendukung para hamba Tuhan lokal dalam pelayanannya. Dalam berjalannya waktu beberapa para hamba Tuhan yang telah menerima baptisan pertama di Maksum dituntut untuk belajar di Sekolah Alkitab Immanuel Borme. Setelah mendapatkan pembekalan selama tiga tahun mereka ditempatkan dibeberapa pos pelayanan antara lain: Gerson Wasini ditugaskan di Bime, Beyu Mallo di Bime, Semuel Mimin di Luban, Arson Wasini di Onya dan Piyus Urwan menjadi ketua Klasis Borme. Klasis Okbab di sahkan oleh Presiden GIDI dan Ketua Klasis Okbab pertama ialah Amos Akmer. Ia menjabat selama tiga priode. Dalam berjalannya waktu wilayah Klasis Okbab dibagi menjadi 4 wilayah kerja yaitu gembala daerah tengah atau induk, gembala daerah selatan, gembala daerah mabis,dan gembalah daerah sofker.
Demikianlah sejarah pekabaran injil di wilayah Okbab dan menyebar ke suku Ketengban, Pegunungan Bintang. Para misionaris UFM menjadi perntis bagi misionaris lain dari denominasi yang berbeda. Pekabaran injil ini pun menjadi bagian dari sejarah peradaban masyarakat Okbab, suku Ketengban dan orang Pegunungan Bintang. Dengan kedatangan, karya dan pelayanan para misionaris dapat membuka pintu untuk masuk dan keluarnya manusia agar benih injil yang ditaburkan dapat bertumbuh subur di wilayah Okbab, suku Ketengban dan bagi masyarakat Pegunungan Bintang.

Penulis adalah Mahasiswa STIE Port Numbay Jayapura, Papua

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *