Otsus Itu Produk Rasialisme Kolonial Indonesia

  • Whatsapp

Oleh: Victor Yeimo

Jakarta yang sedang malas tahu bahas dan putuskan status Otsus itu gunakan paradigma rasis; menganggap bangsa Papua hanya objek komoditi pilitik dan ekonomi; yang tidak memiliki otoritas untuk memutuskan nasibnya sendiri.

Rasisme terlembaga itu adalah kemarin (26/01) Pemerintah Indonesia dan DPD RI bahas untuk lanjutkan dana Otsus 20 tahun hingga 2041. Orang Papua yang sedang berdarah-darah dalam konflik politik dianggap tidak pantas, tidak penting berpendapat dan memutuskan nasibnya setelah otsus berakhir. Itu paradigma rasis yang tumbu subur dalam otak pejabat kolonial.

Rasis itu adalah kasih uang otsus sambil menjajah agar orang Papua tidak maju berkembang, lalu setelah itu kembali salahkan orang Papua dengan stigma tidak mampu, bodoh, pencuri, dsb, sehingga itu menjadi alasan Jakarta hendak bikin Peraturan Pemerintah (PP) tersendiri untuk kelola dana Otsus. Jakarta anggap soal Papua itu soal uang, setelah kasih uang dan gagal lalu kembali salahkan orang Papua. Itu rasis.

Paradikma Jakarta akan bangun Papua itu saja rasis, karena anggap orang Papua tidak bisa bangun dirinya sendiri. Anggapan “Orang Papua kalau merdeka nanti sengsara” itu saja pakai paradigma rasis. Selalu anggap ras kulit hitam di wilayah melanesia bagian barat ini kuno, terbelakang, tidak beradab (evolusi yang belum selesai). Itu benar-benar pandangan rasis.

Pandangan rasis itu pangkal dari semua kejahatan negara penjajah untuk pertahankan wilayah jajahannya. Kejahatan terstruktur negara itu terbukti ketika kita bandingkan kenapa orang Papua hanya tersisa 2,5 juta jiwa sementara tetangga kami PNG sudah 9 juta jiwa. Itu sebenarnya yang harus kita sikapi dengan revolusi kalau mau selamatkan yang tersisa.

Rasis itu ketika Jakarta malas tahu dengan 102 organisasi masyarakat sipil Papua telah nyatakan tolak Otsus melalui Petisi Rakyat Papua. 700 ribu lebih rakyat cap jari basah tolak Otsus. Semua komponen rakyat Papua nyatakan tolak otsus dan menuntut hak penentuan nasib sendiri. Sementara konflik militer dengan korban kemanusiaan dibiarkan dan dipelihara Jakarta tanpa mengambil solusi politik. Itu rasis.

Rasis karena Jakarta anggap orang Papua itu binatang buruan yang harus dimusnakan. Kalau Jakarta tidak rasis pasti orang Papua diajak selesaikan konflik politik dengan membiarkan orang menentukan nasibnya sendiri sebagaimana manusia dan bangsa lain di dunia.

Jadi kesimpulannya, rasisme itu produk kolonial yang akan terus tumbu terpelihara kalau yang terjajah tidak merdeka sendiri. Ukuran Indonesia tidak lagi rasis itu ketika memberi hak penentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua sebagai manifestasi penghormatan pada martabat kemanusiaan Papua.

 

Victor Yeimo

Spei

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *